Bukankah seharusnya yang merasa jenuh/bosan di rumah itu anak-anak? Memangnya orang tua bisa merasa jenuh juga? Tentu saja!

Sejatinya, manusia merupakan makhluk sosial yang akan merasa jenuh jika tidak bisa berinteraksi atau melepas penat kepada orang lain disekitarnya. Apalagi, jika hari-harinya dipenuhi dengan padatnya aktivitas seperti, membersihkan rumah, menyiapkan makanan, bekerja (WFH), mengurus anak dan keluarga, membantu anak mengerjakan tugas-tugas dari sekolah, dan lain sebagainya. Belum lagi jika anak tidak mau kooperatif dan cenderung membuat emosi meledak!

Wah, serasa ingin pecah ya kepala? Hehehe. Rasa penat pun mulai menghampiri. Lalu bagaimana cara mengatasinya? Yuk, simak tips-tips di bawah ini:

1. Buatlah Jadwal Kegiatan Sehari-hari secara Tertulis
Buatlah daftar jadwal kegiatan yang harus dilakukan oleh Ayah/Bunda setiap harinya. Misal, jam berapa Ayah/Bunda harus bekerja (WFH), kapan jadwal membersihkan rumah, menyiapkan makan, mengajak anak bermain, membantu anak mengerjakan tugas, dll. Hal ini dapat memperjelas beban aktivitas/pekerjaan masing-masing pasangan.

2. Berbagi Tugas/Peran dengan Pasangan
Berdiskusilah dengan pasangan terkait jadwal kegiatan tersebut, dan tetapkan pembagian peran dengan adil (sama rata). Apabila pasangan tidak terbiasa dengan salah satu kegiatan, maka doronglah agar mau mencoba dan belajar. Hal ini dapat meningkatkan rasa saling menghargai satu sama lain.

3. Tingkatkan Sikap Kooperatif Anak di Rumah
Ciptakan lingkungan yang tidak mengontrol, namun tetap ada ketegasan. Tidak disarankan untuk berteriak/mengancam dalam meningkatkan kepatuhan anak. Sebaiknya, tetapkan batas waktu (set limit) untuk meningkatkan sikap kooperatifnya. Persuasi anak dengan menawarkan pilihan, biarkan ia yang berperan untuk memutuskan sendiri. Contoh, ‘Kamu mau kerjakan tugas sekarang, atau 10 menit lagi?” Apabila anak menjawab 10 menit lagi maka, tunjukan sikap yang tegas dan konsisten pada anak. Katakan dengan nada tegas (bukan nada tinggi) “Oke, kalau begitu jika setelah 10 menit kamu nggak mulai kerjakan tugas, mama akan simpan HP nya ya” Lalu, segera bertindak saat anak tidak konsisten dengan ucapannya. Hal ini untuk memberinya pemahaman dan kesadaran terhadap konsekuensi dari perilakunya.

4. Manajemen Emosi Marah dan Tingkatkan Ketenangan Diri
Apabila Ayah/Bunda merasakan emosi marah saat sedang mengurus anak, maka sebaiknya ambil waktu untuk menenangkan diri sejenak (relaksasi). Disini, peran pasangan penting untuk mengambil alih dalam mengurus anak. Emosi marah yang tidak terkendali dapat berdampak pada perkembangan sosial-emosional anak. Anak cenderung merasa terluka, rendah diri, tidak berharga, merasa tidak disayang, dan bahkan tidak nyaman di rumah. Selain itu, anak juga akan ‘meniru’ sikap dan perilaku emosional Ayah/Bunda dikemudian hari.

5. Ciptakan Atmosfir Emosi yang Positif
Apabila semua anggota keluarga berada dalam kondisi emosi positif, maka suasana di rumah akan menjadi lebih menyenangkan. Ajarkan anak untuk dapat melabel emosinya, terutama saat ia merasakan emosi negatif (seperti, marah/sedih). Tekankan bahwa ‘Tidak apa-apa kalau kamu merasa marah/sedih’, lalu Ayah/Bunda dapat duduk dan mendengarkan keluh kesah anak. Doronglah anak untuk dapat mengungkapkan emosi yang dirasakan dengan kata-kata yang baik (bukan dengan agresi fisik/verbal). Hal tersebut selain dapat membuat anak merasa dirinya didengar, juga dapat mengajarinya untuk dapat mengendalikan emosi.

6. Luangkan Waktu yang Berkualitas dengan Anak
Gunakan momen #dirumahaja untuk melakukan berbagai aktivitas menyenangkan dengan anak. Luangkan waktu minimal 30 menit – 1 jam untuk terlibat aktif bermain dan berinteraksi dengan anak. Misalnya, membuat tantangan permainan teka-teki, mencari harta karun, terlibat dalam permainan peran, atau permainan fisik (bermain bola, lompat tali, dsb). Persuasi anak untuk menceritakan pengalamannya di sekolah, topik-topik yang disukai, mengembangkan cerita imajinatif, atau membacakan dongeng. Selipkan sentuhan fisik saat berinteraksi seperti,
membelai kepala anak, merangkul, memeluk, mencium sambil juga memberikan ungkapan sayang (seperti, ‘Bunda sayang kamu’. ‘Kamu kebanggaan Bunda’. ‘Anak sholehnya Ayah’ dsb). Aktivitas menyenangkan diatas, selain dapat meningkatkan kedekatan orang tua-anak, kepercayaan diri, dan perasaan berharganya, juga dapat menghilangkan kejenuhan orang tua di rumah.

7. Luangkan Waktu untuk ‘Me Time’
Ini merupakan poin terpenting bagi Ayah/Bunda untuk mengurangi rasa jenuh / emosi negatif. Dikarenakan kita hanya bisa #dirumahaja , maka luangkan waktu selama 30 menit – 1 jam setiap harinya untuk melakukan hobi/aktivitas yang disukai seperti, membaca buku di kamar/teras rumah, bercocok tanam, membersihkan mobil, atau sekedar mendengarkan musik dan mencari informasi seputar topik yang disukai. Komunikasikan dengan pasangan, untuk mengambil alih sementara pengasuhan anak, sehingga waktu ‘me time’ tidak terganggu dan dapat berkualitas.

Leave a Reply