DEPOK – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim telah memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk membolehkan sekolah melaksanakan pembelajaran tatap muka pada Januari 2021. SIT Nurul Fikri sebagai lembaga pendidikan dituntut dapat mengantisipasi jika Pemerintah Daerah baik Provinsi ataupun Kota memperbolehkan sekolah untuk mengadakan proses Pembelajaran Tatap Muka Terbatas.

Direktur Pendidikan SIT Nurul Fikri, Joko Prayitno mengatakan SIT Nurul Fikri telah menyiapkan beberapa hal untuk menyambut Pembelajaran Tatap Muka Terbatas dengan memprioritaskan keselamatan guru, karyawan dan siswanya. Menurut Joko, dikatakan terbatas karena pada praktiknya nanti tidak semua siswa diperbolehkan untuk mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah pada masa transisi, hanya 1/3 siswa dari besarnya ruangan sekitar 10 siswa dan sebagian tetap harus belajar dari rumah.

“SIT Nurul Fikri harus dapat memberikan layanan yang dapat mengakomodir siswa yang belajar tatap muka (offline/luring) dan belajar di rumah (online/daring) dengan kualitas yang sama. Oleh karena itu maka manajemen SIT Nurul Fikri telah memutuskan pola pembelajaran yang akan digunakan adalah hybrid learning,” kata Joko.

Hal pertama dilakukan untuk menyambut proses Pembelajaran tatap Muka Terbatas adalah dengan mengadakan Webinar Kesehatan tentang Persiapan Pembelajaran Semester 2 Tahun Ajaran 2020/2021 ditengah Covid-19 yang baru saja dilakukan tadi pagi, Kamis (17/12/2020) melalui platform zoom dan disiarkan langsung ke akun YouTube SIT nurul Fikri.

Joko mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk membuat para siswa memiliki wawasan yang cukup mengenai Pembelajaran Tatap Muka Terbatas di semester 2. Ini merupakan salah satu bentuk upaya kehati-hatian dengan memberikan wawasan yang cukup kepada siswa karena prinsip yang diutamakan adalah keselamatan dan kesehatan warga SIT Nurul Fikri. Apalagi menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) kasus Covid-19 dikalangan anak, Indonesia merupakan salah satu negara tertinggi se-Asia Pasifik.

“Diharapkan dengan kegiatan webinar kesehatan ini, siswa memiliki gambaran yang utuh mengenai karakteristik Covid-19. Pembelajaran Tatap Muka Terbatas ditengah situasi pandemi seperti apa? Bahaya Covid-19? Bagaimana cara menanggulanginya? Sehingga nanti ketika mereka memutuskan yaitu dialog dengan orang tua sudah berbasis pengetahuan yang cukup, tidak berdasarkan persepsi masing-masing mereka,” terang Joko, Kamis (17/12/2020).

Kegiatan ini ditujukan untuk siswa, orang tua siswa, guru dan karyawan dengan menghadirkan narasumber dokter dari RSIA Kemang Medical Care, dokter Yundri Martiraz. Alumni SMAIT Nurul Fikri ini memberikan penjelasan tentang apa itu Covid-19 dan bagaimana cara mengcegahnya. Lalu dilanjutkan penjelasan tentang protokol kesehatan saat proses Pembelajaran Tatap Muka Terbatas di SIT Nurul Fikri oleh Kepala Biro Kurikulum dan Pembelajaran SIT Nurul Fikri, Drs. Suharyono sebagai narasumber kedua.

SIT Nurul Fikri akan tetap melihat kondisi, jika memungkinkan akan dilakukan Pembelajaran tatap Muka Terbatas pada Februari 2021. SIT Nurul Fikri akan menerapkan sarana dan prasarana (pendukung) sesuai protokol kesehatan di sekolah, demikian juga dengan guru-gurunya, sehingga nanti sudah bisa dilaksanakan belajar tatap muka di sekolah.

Seperti mempersiapkan sarana prasarana sesuai protokol kesehatan seperti memberi jarak tempat duduk antar siswa dengan jarak 1,5 meter dari empat sisi (depan-belakang, kanan-kiri), memakai masker bedah dan membawa satu cadangan masker bedah, menyiapkan alat mencuci tangan di setiap kelas.

Dalam penjelasannya, Drs Suharyono, protokol kesehatan pertama yang akan dilakukan dimulai dari prosesi kedatangan siswa. Setiba di sekolah, siswa menuju lokasi pemeriksaan suhu. Jika pada pemeriksaan awal terdapat gejala demam, batuk pilek, nyeri tenggorokan, sesak nafas, sakit kepala, mual/muntah, diare, anosmia (hilangnya kemampuan indera penciuman) atau ageusia (kehilangan indera perasa) maka siswa tidak diperkenankan mengikuti pembelajaran tatap muka dan diminta pulang ke rumah setelah orangtua siswa yang bersangkutan dihubungi.

Kedua, protokol kesehatan guru. Guru yang akan mengampu pembelajaran tatap muka harus dipastikan bebas Covid-19 dan harus menggunakan masker saat pembelajaran di kelas, mencuci tangan sebelum masuk kelas, menjaga jarak 1,5 meter dengan siswa dan mengingatkan siswa mengenai protokol kesehatan.

Ketiga, menerapkan protokol kesehatan sarana prasarana, seperti ruang kelas dibersihkan & didisinfektan 15 menit sebelum KBM dimulai dan setelah kelas selesai digunakan di siang hari setiap hari, jendela dipastikan dalam keadaan terbuka sebelum digunakan dan ditutup siang hari setelah digunakan, pintu kelas dibuka lebar-lebar saat akan digunakan dan ditutup setelah pembelajaran selesai, mengecek ketersediaan cairan pencuci tangan setiap hari, memasang displai-displai terkait penjagaan protokol kesehatan di tempat-tempat strategis, petunjuk lokasi berdiri dipasang di tempat-tempat yang berpotensi ada antrean, dan kantin, masjid, sarana bermain dan olahraga tidak difungsikan.

Leave a Reply