Pandemik yang hadir di Indonesia sejak Desember tahun lalu membuat banyak perubahan pada berbagai aspek, termasuk pendidikan. Aktivitas belajar mengajar dihadapkan pada situasi yang sangat berbeda daripada biasanya dimana kegiatan tatap muka secara langsung di sekolah digantikan dengan tatap muka secara daring di rumah masing-masing. Guru, siswa, termasuk orang tua dituntut untuk cepat beradaptasi dengan strategi dan cara belajar mengajar baru.

Orang tua termasuk salah satu pihak yang tugasnya terasa bertambah karena tiba-tiba ada tuntutan yang lebih banyak untuk mendampingi anak-anak belajar secara daring. Mendadak banyak ibu yang berkomentar belajar daring, bikin darting. Hal itu ternyata untuk menggambarkan situasi emosi yang mudah tersulut karena kesal mendampingi anak belajar daring.

Dalam situasi krisis seperti pandemik, kemunculan perasaan-perasaan tidak nyaman seperti kesal, mudah tersulut, dan sensitif merupakan reaksi normal dalam situasi yang tidak normal.  Jadi wajar jika kita merasakan sensasi emosi yang berbeda, 8 bulan terakhir, dalam mendampingi anak belajar daring. Belajar daring memang beragam kondisinya, menantang sekaligus menegangkan. Orang tua perlu ekstra beradaptasi ulang untuk mengatur waktu menyelesaikan pekerjaan domestik, urusan kantor, juga pendampingan anak belajar daring.

Belajar daring seringkali membuat tidak nyaman untuk orang tua karena:

  • Sekolah seolah pindah ke rumah sehingga tanggung jawab orang tua bertambah
  • Adanya situasi yang dianggap mengancam, misalnya saat performa akademik anak buruk selama belajar daring dianggap sebagai kegagalan orang tua dalam mendampingi
  • Muncul ekspektasi yang tidak sejalan dengan realita
  • Rutinitas keluarga yang tidak bisa diiplementasikan
  • Kelelahan yang muncul akibat mengerjakan semua hal dalam satu waktu secara bersamaan

Situasi-situasi di atas dapat memicu kemunculan perasaan tidak nyaman, kesal, marah, atau stress. Jika hal tersebut tidak dikelola dengan baik maka akan berdampak pada kesehatan mental para orang tua. Untuk mengantisipasi hal tersebut, berikut hal-hal yang dapat dilakukan:

1. Take a break
Ketika mulai tidak nyaman menemani anak belajar daring, beri waktu untuk diri kita untuk menyadari apa yang dirasakan, apa yang dipikirkan, dan apa yang dilakukan. Jika anak masih kecil dan sulit untuk ditinggalkan, ambil waktu 15 menit untuk menenangkan diri di kamar atau berjalan-jalan di halaman rumah. Ambil jeda, kapanpun kita merasa ada kesempatan. Lakukan relaksasi sederhana dengan langkah-langkah berikut:

  • Duduk nyaman
  • Tarik nafas dalam selama 4 hitungan (perut menggembung)
  • Tahan nafas selama 4 hitungan
  • Hembuskan selama 4 hitungan.
  • Ulangi 4x atau hingga merasa nyaman

 

2. Jaga komunikasi
Salah satu kendala dalam pendidikan daring adalah komunikasi yang terbatas. Tetaplah berkomunikasi dengan guru, komite sekolah, pasangan, atau support system kita yang lain. Komunikasikan mengenai jadwal harian anak kepada pasangan sehingga bisa saling mengisi. Selain itu, bisa juga dengan mendiskusikan gaya belajar anak selama daring di rumah dengan guru kelas atau konselor di sekolah untuk mendapatkan masukan dalam pendampingan belajar daring. Jangan ragu untuk berbagi dan menceritakan tantangan maupun keseruan mendampingi belajar daring di rumah kepada orang yang kita percaya.

 

3. Mengelola Ekspektasi
Saat ini, kurikulum yang diberlakukan oleh Kementerian Pendidikan adalah kurikulum darurat yang disesuaikan dengan kondisi sekarang. Penting bagi orang tua untuk mengelola ekspektasi terhadap anak terutama dalam aspek performa akademik. Cobalah untuk fokus menikmati hal-hal positif yang anak hadirkan walaupun itu kecil.

 

4. Ask for Help
Jika merasa situasi sangat tidak bisa diatasi, carilah bantuan. Mencari bantuan dapat memberi perubahan pada kondisi kesehatan mental kita selama mendampingi belajar daring. Untuk itu, jangan ragu untuk mendapatkan dukungan emosi, finansial, ataupun pengasuhan anak dari orang-orang terdekat kita jika memang hal itu dibutuhkan.

 

Diasuh oleh TIM BK SIT NF

Leave a Reply