SDSIT NURUL FIKRI

SDIT Nurul Fikri Siap Pelopori Adiwiyata Tingkat Nasional

By February 5, 2013 No Comments

TUGU – Kondisi yang sangat memungkinkan membuat Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nurul Fikri dipersiapkan untuk ikut dalam lomba Adiwiyata Kota Depok yang akan di gelar Maret 2013. Penghargaan ini akan diberikan langsung oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok.

Perlombaan Adiwiyata ini cukup representatif untuk kedepannya karena bukan hanya penghijauan saja yang ditampilkan, namun akan membentuk budaya positif dan ramah lingkungan serta membangun karakter positif kepada anak-anak menuju sekolah Adiwiyata yang berwawasan lingkungan.

“SDIT Nurul Fikri ini harus bermetamorfosis, artinya harus muncul dengan model baru karena model lama yaitu standar mutu Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) sudah kami bagikan ke sekolah-sekolah lain melalui buku dan berbagi ilmu,” jelas Kepala Sekolah SDIT NURUL Fikri, Ahmad Sukarya, S.Pd, di ruang kerjanya, Depok, Selasa (5/2).

Buku standar mutu JSIT memang sudah banyak dikontribusikan sehingga Nurul Fikri ingin terus berbagi dengan sekolah-sekolah lain dalam bentuk yang berbeda maka harus memuncul sesuatu yang baru lagi. “Anak belum dikatakan saleh kalau hanya salat saja sementara kehidupannya masih jorok,” tuturnya.

Hal ini membuat kepala sekolah akan mensosialisasikan mimpi dan cita-cita ini kepada semua staf yang ada di SDIT Nurul Fikri beserta murid dan orangtua murid sehingga ada visi bersama. Tujuan dari perlombaan ini, menurut Sukarya, selain untuk membangun kebiasaan baik kepada anak-anak sehingga bisa membuang sampah pada tempatnya juga diharapkan untuk kedepannya bisa menularkannya ke sekolah-sekolah lain.

Apalagi selama ini di Depok belum pernah ada sekolah yang ber-Adiwiyata. Melalui program terbaru inilah Nurul Fikri harus menjadi pelopor. “Kami sudah ada kerjasama dengan pihak BLH (Badan Lingkungan Hidup). Mereka siap membantu, misalnya sekolah kita butuh tanaman apa, nanti mereka bantu. Mereka juga siap untuk memantau dan mengarahkan,” ucapnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, untuk menjadi sekolah Adiwiyata memiliki tantangan yang cukup tinggi. Diakui memang masih massifnya pembentukan budaya sehingga harus melalui pembelajaran dan kebiasaan dalam sebuah gerakan bersama mulai dari karyawan, guru, murid, dan orangtua murid. Apalagi lomba Adiwiyata dalam setiap tahun akan dinilai.

“Saya ingin Nurul Fikri bukan hanya menjadi sekolah Adiwiyata tingkat nasional tetapi sudah menjadi Adiwiyata mandiri yang artinya mempunyai kewajiban menularkan kebaikan itu kepada 10 sekolah diesekitar Nurul Fikri,” tandasnya.

Program paling awal ialah akan mensosialisasikan ke semua karyawan, guru, murid dan orangtua murid. “Sosialisasi dalam bentuk mempresentasikan atau membuat selebaran dan saya akan mengundang komite ke sini untuk menyampaikan hal tersebut. Mungkin nanti akan ada pembentukan polisi sekolah, polisi kebersihan dari siswa yang akan memantau,” tutupnya.

Proses seleksinya didasarkan pada 4 kriteria yang meliputi pengembangan kebijakan sekolah peduli dan berbudaya lingkungan, pengembangan kurikulum berbasis lingkungan, pengembangan kegiatan berbasis partisipatif, dan pengelolaan dan atau pengembangan sarana pendukung sekolah.

Leave a Reply