Isra adalah perjalanan Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam pada malam hari dari Masjidil Haram ke masjidil Aqsha. Sedangkan, mi’raj bermakna tangga khusus yang digunakan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam adalah naik dari bumi ke langit melewati lapis langit sampai pada langit ketujuh.

Kisah Isra’ Mi’raj termasuk tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla serta mukjizat besar dan tanda kenabian yang sangat jelas. Selain itu, ini adalah kekhususan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun isra yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah melakukan perjalanan pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Sedangkan mi’raj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah naik dari bumi ke langit melewati lapis langit sampai pada langit ketujuh.

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Isra’: 1)

Ketika beliau sampai pada tempat yang palling tinggi, Allah Ta’Ala pun mewahyukan kepada beliau tentang perkara 5 shalat sehari semalan, setiap shalat pahalanya bernilai 10, sehingga seluruhnya berjumlah 50.
“Shalat lima (waktu) itu dinilai lima puluh waktu (pahalanya)” (HR. Bukhari & Muslim)

Dan kewajiban kita adalah beriman sesuai dengan berita yang datang terhadap seluruh perkara-perkara ghaib yang Allah Ta’ala kabarkan kepada kita atau dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sumber: parenting_islam.id

Leave a Reply