SIT NURUL FIKRI

Antara Mudharat dan Manfaat

By April 4, 2009 No Comments

Sesungguhnya semua manusia dilanda kesibukan. Masing-masing sibuk untuk menggapai persepsinya tentang kebahagiaan. Apa yang kita kejar? Apa yang kita hindari? Cobalah tengok diwaktu pagi masih terlihat gelap, jalan-jalan sudah dipenuhi kendaraan menuju kepentingannya masing-masing. Namun lihatlah rumah Allah diwaktu subuh!

Berapakah jumlah orang yang berjuang agar berada dalam shaf pertama salat subuh. Berapa banyakkah orang yang khawatir terlambat masuk kerja dengan yang terlambat salat subuh berjamaah. Fakta menggambarkan bahwa masih terlalu sedikit orang yang memikirkan tanggung jawabnya sebagai Hamba Allah. Ini bisa dilihat dari jumlah jamaah salat subuh di suatu masjid dibanding jumlah penduduk yang beragama Islam di sekitarnya.

Ini semua berpangkal dari masalah akidah, keyakinan, dan orientasi hidup. Semua orang pasti tidak ingin dilanda kesulitan, semua orang tentunya ingin kebutuhannya dipenuhi. Siapakah yang dapat memenuhi kebutuhan hidup kita? Siapakah yang dapat menghindarkan kita dari kesulitan hidup kita? Jawaban yang paling mudah adalah yang terjangkau dengan pancaindra kita. Adakah yang menjawab dengan Iman kita kepada Allah SWT?

Lupakah kita bahwa tidak ada kemudharatan yang terhindar dari kita kecuali dengan izin Alah SWT. Tidak ada kebajikan yang menghampiri kita kecuali dengan izin Allah SWT. Dialah yang dapat menghindarkan kita dari segala kemudharatan, Dialah yang dapat mendatangkan kebaikan pada kita. Dialah yang memberi jalan keluar jika kita mengalami kesulitan. Pernyataan akidah ini sepintas sederhana namun ketika dilaksanakan alangkah sedikit yang dapat melaksanakannya.

Perhatikan Firman Allah, “Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudharat kepadamu selain Allah SWT. Sebab jika kamu berbuat demikian itu maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim. ¬ĚJika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkan kecuali dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karuania-Nya. Dia memberikan kebaikan pada siapa yang dikehendakiNya diantara hamba-hambaNya dan Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS.10: 106-107.

Kalau kita yakin dengan doktrin akidah di atas maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak tunduk pada wahyu-wahyu Allah. Mengikuti wahyu Allah memandu kita agar hidup kita terhindar dari kemudharatan dan terpenuhi kebutuhan kita penuh berkah. Allah sama sekali tidak sedikit pun memiliki kepentingan dengan semua wahyu Allah yang sudah diturunkan. Kesemuanya hanya diperuntukkan untuk kesejahteraan manusia di dunia dan di akhirat, sebagaimana Firman Allah SWT, “Katakanlah: Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (Alquran) dari Tuhanmu, sebab itu barang siapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya petunjuk itu untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barang siapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatan itu akan mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu. Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan dia adalah hakim yang sebaik-baiknya.” QS.10: 108-109.

Leave a Reply