DEPOK – Dunia saat ini tengah dihadapkan dengan disrupsi di berbagai bidang. Permintaan akan individu dengan penguasaan keterampilan baru pun menjadi sebuah keniscayaan bagi setiap perusahaan. Apalagi saat ini kita telah memasuki era revolusi industri generasi keempat atau industry revolution 4.0 yang ditandai dengan kemunculan komputer super dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Melansir white paper yang diterbitkan oleh World Economic Forum (WEF) pada Januari 2020, dunia saat ini membutuhkan metode Pendidikan 4.0 guna mendukung The Fourth Industrial Revolution. Pada white paper tersebut, disebutkan delapan karakteristik kritis dalam konten dan pengalaman pembelajaran untuk menerapkan Pendidikan 4.0.

Kedelapan karakteristik tersebut meliputi kemampuan masyarakat global, kemampuan berinovasi dan berkreativitas, kemampuan teknologi, kemampuan interpersonal, dan pembelajaran yang telah dipersonalisasi sesuai karakteristik individu masing-masing (personalized and self-paced learning). Selanjutnya, ada pembelajaran inklusif, pembelajaran yang berbasis pada masalah dan kolaboratif, serta pembelajaran seumur hidup sesuai dengan kebutuhan siswa (lifelong and studentdriven learning).

Pendidikan 4.0 bercirikan pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran atau dikenal dengan sistem siber. Sistem tersebut dapat membuat proses pembelajaran dapat berlangsung secara kontinyu tanpa batas ruang dan batas waktu. Misalnya, penggunaan e-learning dalam pembelajaran bahasa. Pemanfaatan e-learning sebagai aplikasi nyata teknologi informasi dan komunikasi dalam dunia pendidikan.

Adanya perkembangan di bidang teknologi saat ini menyebabkan perkembangan terhadap bidang lain. Hal ini berdampak ke SIT Nurul Fikri yang memiliki peran vital dalam mempersiapkan individu dan mencetak sumber daya manusia yang berkualitas dan unggul dalam bidang Intelegensi Artifisial untuk menyambut revolusi industri 4.0.

Dalam hal ini, ada dua hal perkembangan yang diterapkan di SIT Nurul Fikri, yaitu:

  1. Nurul Fikri memodernisasi bisnis proses dengan memanfaatkan teknologi 4.0
  2. Mencetak lulusan Nurul Fikri untuk mampu memiliki kecakapan komputasional

SIT Nurul Fikri akan menerapkan kompetensi kelulusan siswa dengan memasukkan aspek-aspek terkait komputasi 4.0 untuk mencetak generasi yang mampu menguasai soft skill atau kemampuan yang bersifat afektif dan psikomotorik. Kemampuan seperti critical thinking, problem solving, communication, collaboration, dan creativity atau invention justru sangat dibutuhkan dalam persaingan global untuk sekarang dan tahun-tahun kedepannya.

Hal itulah menjadi perhatian SIT Nurul Fikri dengan menerapkan dua program pembelajaran, yaitu Computational Learning dan Bilingual. Kedua program itu sudah sejalan dengan ketetapan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Pertama, Computational Learning adalah metode menyelesaikan persoalan dengan menerapkan teknik ilmu komputer (informatika). ‚ÄúComputational Learning pada intinya adalah pembelajaran tentang coding, algoritma. Di negara-negara maju sudah dikembangkan di level sekolah dasar pemahaman tentang algoritma dan coding. Coding itu berarti dia menyusun algoritma untuk pengembangan aplikasi-aplikasi komputer dengan menggunakan teknologi ini. Jadi siswa akan diajarkan untuk memiliki keterampilan untuk mengembangkan literasi dalam bidang computational thinking atau learning.” terang Fahmi Zulkarnaen.

Untuk mengembangkan hal itu, SIT Nurul Fikri akan bekerja sama dengan Artificial Intelligence Center Indonesia (AICI), sebuah lembaga yang didirikan atas kerjasama UMG IdeaLab Indonesia dengan FMIPA Universitas Indonesia.

Kerjasama sudah dilakukan pada 18 Februari 2021 dalam bentuk penandatanganan MoU antara SIT Nurul Fikri dengan AICI.

Implementasinya adalah dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler AI atau kecerdasan buatan untuk level SMA. Para siswa akan belajar AI atau kecerdasan buatan dengan menghadirkan tenaga pendidik dari AICI.

Kedua, Bilingual. Program bilingual bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi siswa dalam bahasa Inggris sebagai bahasa dunia global agar mampu mengintensifkan pelajaran Bahasa Inggris, Statistik, dan coding, sebagai hal mutlak untuk dikuasai oleh SDM industri agar mampu bersaing di revolusi industri 4.0.

Jadi, pembelajaran di SIT Nurul Fikri akan memasukan kurikulum AI dengan kurikulum TIK mulai dari level SD hingga SMA. “Bekerjasama dengan AICI dan TIK kita akan mengembangkan pembelajaran computational learning, khususnya belajar algoritma dan coding untuk siswa,” tandas Fahmi.

Leave a Reply