Bandung Lautan Api adalah peristiwa kebakaran yang terjadi di Kota Bandung pada 24 Maret 1946. Dalam waktu tujuh jam, sekitar 200 ribu penduduk Bandung rumah mereka. Kemudian, mereka meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah Selatan Bandung. Peristiwa Bandung Lautan Api merupakan salah satu titik penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia ini ditandai dengan pengosongan dan pembakaran Bandung oleh rakyat dan tentara agar tidak dijadikan markas pasukan Sekutu dan NICA (Belanda).

Aksi bumi hangus di Bandung dipandang sebagai taktik yang dirasa paling ideal dalam situasi saat itu karena kekuatan pasukan Republik Indonesia tidak sebanding dengan kekuatan Sekutu dan NICA. Bandung Lautan Api menjadi salah satu peristiwa paling heroik dalam sejarah mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan diabadikan dalam berbagai bentuk karya seni, seperti lagu atau film.

Latar belakang Peristiwa Bandung Lautan Api.

Djoened Poesponegoro dan kawan-kawan dalam Sejarah Nasional Indonesia VI (2008) menuliskan bahwa peristiwa Bandung Lautan Api diawali dengan datangnya pasukan Sekutu/Inggris pada 12 Oktober 1945. Beberapa pekan setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, pasukan Sekutu yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) datang ke Indonesia usai memenangkan Perang Dunia II melawan Jepang. Namun, ternyata Belanda atau NICA membonceng pasukan Sekutu dan ingin menguasai Indonesia lagi. Bergolaklah perlawanan dari prajurit dan rakyat Indonesia atas kehadiran Belanda.

Istilah ‘Bandung Lautan Api’

Istilah Bandung Lautan Api menjadi istilah yang terkenal setelah peristiwa pembumi-hangusan tersebut. Jenderal A.H Nasution adalah Jenderal TRI yang dalam pertemuan di Regentsweg (sekarang Jalan Dewi Sartika), setelah kembali dari pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta, memutuskan strategi yang akan dilakukan terhadap Kota Bandung setelah menerima ultimatum Inggris tersebut.

“Jadi saya kembali dari Jakarta, setelah bicara dengan Sjahrir itu. Memang dalam pembicaraan itu di Regentsweg, di pertemuan itu, berbicaralah semua orang. Nah, disitu timbul pendapat dari Rukana, Komandan Polisi Militer di Bandung. Dia berpendapat, “Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api.” Yang dia sebut lautan api, tetapi sebenarnya lautan air.”-A.H Nasution, 1 Mei 1997

Istilah Bandung Lautan Api muncul pula di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Seorang wartawan muda saat itu, yaitu Atje Bastaman, menyaksikan pemandangan pembakaran Bandung dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garut. Dari puncak itu Atje Bastaman melihat Bandung yang memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi.

Setelah tiba di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan bersemangat segera menulis berita dan memberi judul “Bandoeng Djadi Laoetan Api”. Namun karena kurangnya ruang untuk tulisan judulnya, maka judul berita diperpendek menjadi “Bandoeng Laoetan Api”.

Kronologis Peristiwa Bandung Lautan Api

12 Oktober 1945

Pada 12 Oktober 1945, pasukan Inggris, Brigade McDonald dan Tentara Belanda tiba di Kota Bandung. Mereka menuntut agar seluruh senjata api yang ada di tangan penduduk diserahkan pada mereka. Selain melucuti senjata, mereka juga meminta bantuan untuk membebaskan Tentara Jepang dan Tawanan Eropa.

Orang-orang Belanda yang baru dibebaskan dari tawanan mulai melakukan tindakan-tindakan yang mulai mengganggu keamanan. Akibatnya, bentrokan bersenjata antara Inggris dan TKR tidak dapat dihindari. Pada 21 November 1945 malam, TKR dan badan-badan perjuangan melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di bagian utara yang digunakan sebagai markas.

21 November 1945

Pada malam tanggal 21 November 1945, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan badan-badan perjuangan melancarkan serangan terhadap posisi-posisi Inggris di bagian utara, termasuk Hotel Homann dan Hotel Preanger yang mereka gunakan sebagai markas.

24 November 1945

Kolonel McDonald menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat agar Bandung Utara dikosongkan oleh penduduk Indonesia, termasuk pasukan tentara.

25 November 1945
Pada tanggal 25 November 1945 terjadi pertempuran di sejumlah daerah seperti Cihargeulis, Sukajadi, Pasirkaliki, viaduct (jembatan di atas jalan) dan balai kereta api. Pesawat Inggris menjatuhkan bom ke Lengkong Besar dan Cicadas. Di Lengkong Besar, Tentara Sekutu berusaha membebaskan Tawanan Eropa.

27 November 1945
Pada 27 November 1945, Kolonel MacDonald selaku panglima perang Sekutu sekali lagi menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat, Mr. Datuk Djamin, agar rakyat dan tentara segera mengosongkan wilayah Bandung Utara. Peringatan yang berlaku sampai tanggal 29 November 1945 pukul 12.00 harus dipenuhi. Jika tidak, maka Sekutu akan bertindak keras. Ultimatum kedua itu pun tidak digubris sama sekali. Beberapa pertempuran terjadi di Bandung Utara. Pos-pos Sekutu di Bandung menjadi sasaran penyerbuan.

11 Maret 1946

Pada tanggal 11 Maret 1946, pihak Sekutu berencana memindahkan basis militernya dari Jakarta ke Bandung . Konvoi terpanjang dari gabungan terbesar tentara Sekutu pun dihadang dalam perjalanan. Pertempuran pun bergolak selama lima hari. Pada tanggal 15 Maret 1946 Sekutu datang ke Bandung dengan babak belur. Tercatat sekitar 115 tentara sekutu luka parah, 20 di antaranya bunuh. Didasari pada kerugian perang tersebutlah, Inggris memberikan ultimatum melalui pesawat perang untuk mengosongkan kota Bandung selambat-lambatnya tengah malam 24 Maret 1946. Hal tersebut juga didasari oleh rencana Sekutu yang ingin menjadikan Bandung sebagai basis militer yang baru.

17 Maret 1946

Tanggal 17 Maret 1946, Panglima Tertinggi AFNEI di Jakarta, Letnan Jenderal Montagu Stopford, memperingatkan kepada Soetan Sjahrir selaku Perdana Menteri RI agar militer Indonesia segera meninggalkan Bandung Selatan sampai radius 11 kilometer dari pusat kota. Hanya pemerintah sipil, polisi, dan penduduk sipil yang diperbolehkan tinggal.

23 Maret 1946
Tanggal 23 Maret 1946, Tentara Sekutu di bawah komando Kolonel McDonald mengeluarkan ultimatum kedua. Bandung Selatan harus dikosongkan oleh rakyat sipil dan milisi Indonesia. Tuntutan itu tentu ditolak dengan keras oleh TRI. Kemudian, pada tanggal 23 Maret 1946 pada pukul 21.00, bumi hangus kota pun dilakukan sebagian, yakni di Banceuy, Cicadas, Braga dan Tegallega. Dan gedung pertama yang dibakar adalah Bank Rakyat.

24 Maret 1946

Eksekusi membumihanguskan Bandung dilakukan pada dini hari 24 Maret 1946. Dengan terbakarnya Kota Bandung maka sekutu tidak bisa memakai Bandung sebagai markasnya. Serangan dan aksi pembakaran oleh pejuang yang yakin 200 ribu orang dalam waktu tujuh jam saja.

Pembumihangusan Bandung pun dimulai. Warga yang hendak meninggalkan rumah membakarnya terlebih dahulu. Pasukan TRI punya rencana yang lebih besar lagi. TRI merencanakan pembakaran total pada 24 Maret 1945 pukul 24.00, namun rencana ini tidak berjalan mulus karena pada pukul 20.00 dinamit pertama telah meledak di Gedung Indische Restaurant. Lantaran tidak sesuai rencana, pasukan TRI melanjutkan aksinya dengan meledakkan gedung-gedung dan membakar rumah-rumah warga di Bandung Utara. Malam itu, Bandung terbakar dan peristiwa itu kemudian dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api.

Tokoh Peritiwa bandung lautan Api

Dari Indonesia: Mohammad Endang Karmas, Moeljono, Datuk Djamin, Soetan Sjahrir, Kolonel A.H. Nasution
Dari Belanda: Brigadir MacDonald, Letnan Jenderal Montagu Stophord

Peristiwa Bandung Lautan Api merupakan bagian dari perjuangan bansga Indonesia dalam rangka mempertahankan kemerdekaan. Sebagaimana perjuangan didaerah lainnya, maka bernilai rela berkorban, patriotik dan cinta tanah air.

Ketika semua manusia berupaya untuk mendapatkan tempat tinggal, akan tetapi rakyat Bandung Selatan malah menghanguskannya demi tidak memberikan kesempatan pada Sekutu menjadikan kota Bandung sebagai markas, karena rakyat Bandung menyadari kemerdekaan merupakan harga mati. Mereka tidak rela daerahnya dijadikan sebagai tempat domisili penjajah atas nama kemerdekaan.

Kepahlawanan terlihat pada saat seluruh rakyat Bandung bahu membahu menyerang sekutu yang dipimpin oleh Inggris. Mereka tidak gentar walaupun tentara-tentara Inggris mmerupakan pemenang Perang Dunia II. Bagi rakyat Bandung mempertahankan kemerdekaan hingga titik darah penghabisan merupakan ‘janji suci’ yang dinyatakan sebagai bukti kecintaan terhadap tanah air.

Sepatutnya apapun yang terjadi di setiap wilayah negeri ini, walaupun hanya lemparan batu kerikil kepada penjajah untuk selalu dihormati dan dihargai, karena kita tidak melihat besarnya perlawanan, namun niat dan jiwa pengorbanan yang dierikan untk bangsa dan negara. Indoensai memang syurga bagi para syuhada.

Referensi

Indonesia, Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaa. 2014. Sejarah Indonesia SMA Kelas XII. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan kebudayaan.
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, Nugroho; dkk. 1998. Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka
https://id.wikipedia.org/wiki/Bandung_Lautan_Api
https://tirto.id/sejarah-peristiwa-bandung-lautan-api-penyebab-kronologi-tokoh-gajf

Penulis: Drs. Suharyono
Guru Sejarah SMAIT Nurul Fikri dan
Kepala Biro Kurikulum dan Pembelajaran SIT Nurul Fikri

Leave a Reply