SIT NURUL FIKRI

Nurul Fikri Ingin Bentuk Siswa Menjadi Peneliti sejak Dini

By April 24, 2016 No Comments

Gulalives.com, Depok- Dengan memiliki misi untuk membentuk budaya penelitian di kalangan siswa TK hingga SMA, Sekolah Islam Terpadu Nurul Fikri Depok mengadakan program budaya riset kepada siswa-siswi di lingkungan Nurul Fikri.

Dengan Acara Nurul Fikri Research Expo 2016, Nurul Fikri Kota Depok mengadakan pameran hasil riset siswa Nurul Fikri. Acara ini merupakan acara puncak yang diadakan selama dua hari sejak tanggal 22 April 2016 hingga tanggal 23 April 2016. Dua bulan sebelumnya para siswa telah diminta untuk melakukan penelitian terhadap fenomena-fenomena yang ada disekitar mereka.

Acara yang bertajuk “Be A Young Researcher for the Future” dengan tujuan membentuk peneliti muda yang berinovasi sejak dini, menuju sekolah yang berbudaya riset. Hasil dari program ini diharapkan para siswa dapat berpikir secara logis, dan sistematis, agar mereka dapat eksis mencapai masa depan.

Untuk membentuk peneliti muda yang berinovasi sejak dini harus dimulai dari para pengajar. “Peran guru sangat penting dalam pembentukan budaya riset di kalangan siswa. Guru-guru di Nurul Fikri selalu memberikan pertanyaan-pertanyaan yang merangsang, dan menumbuhkan rasa penasaran siswa. Budaya riset didalam diri para siswa harus terus dibangkitkan, dan juga dituntun. Maka mereka akan memiliki sifat kritis terhadap setiap fenomena disekitar mereka.” ungkap Rahmat Saripudin, kepala bidang Pendidikan SIT Nurul Fikri Depok.

Hasil penelitian para siswa selalu diapresiasi dengan dilakukan presentasi, dan di pamerkan seperti di Research Expo 2016 ini. Kami di Nurul Fikri membebaskan para siswa dalam segala riset dengan tema yang ditentukan oleh siswa. Para guru hanya diminta untuk membimbing. Siswa sendiri yang akan menentukan tema yang akan menjadi bahan penelitian mereka.

Salah satu contoh hasil penelitian siswa yakni, mereka meneliti tentang kebiasaan sholat berjamaah kepada teman-temannya. Hal ini merupakan rasa penasaran siswa terhadap kebiasaan sholat. Ketika mereka telah menemukan pertanyaan-pertanyaan, maka para siswa yang meneliti hal tersebut akan menjawab pertanyaan penelitian mereka dengan menggunakan kuesioner. Penelitian tersebut sangat sederhana sebenarnya. Namun bagi para siswa itu kan hal yang kompleks.

Budaya riset yang dikembangkan di Nurul Fikri tidak hanya dimulai dari jenjang SMA, tetapi juga dimulai dari jenjang yang paling dasar, yakni TK. Perbedaan dari jenjang tersebut hanyalah ragam penelitian yang berbeda. Semakin tinggi jenjang pendidikannya maka semakin advance kemampuan yang harus mereka kembangkan.

“Jika anak-anak TK yang ditingkatkan adalah kemampuan mengamati, mengobservasi, dan mempertanyakan. Kemampuan tersebutlah yang dilatih sejak dini. Jika anak-anak SMA mereka boleh melakukan penelitian sosial, seperti interaksi antar masyarakat,” tambah Rahmat.

Nurul Fikri sebagai salah satu lembaga pendidikan di Indonesia tidak ingin mencetak siswa-siswa yang sekolah hanya untuk persiapan mendapatkan kerja maupun untuk sekedar melanjutkan ke tahap selanjutnya.

Namun di Nurul Fikri para siswa disiapkan untuk bisa melihat sebuah masalah, mendapatkan pertanyaan, dan memecahkan masalah tersebut. Untuk memecahkan sebuah masalah dan menajawab hal itu mereka harus dapat berpikir logis dan berpikir kritis. Jika mereka memiliki sifat kritis mereka selalu melihat, meneliti, membandingkan, dan menginvestigasi fenomena yang terlihat disekitarnya. Sehingga para siswa tidak sekedar mendapatkan informasi dari satu pihak.

“Ada delapan kemampuan berpikir yang ingin dibentuk di Nurul Fikri. Keterampilan tersebut yakni kemampuan mengamati, observasi, mengumpulkan data, dan membuat sebuah kesimpulan, itu yang ingin dibentuk Nurul Fikri,” lanjut Rahmat.

Di Nurul Fikri Research Expo 2016 terdapat 175 karya siswa yang akan di pamerkan. Mereka akan dibuatkan semacam booth ditanggal 23 April. Sehingga para pengunjung yang datang dapat melihat dan mendengarkan langsung pemaparan yang akan diberikan oleh siswa-siswa Nurul Fikri. Hasil penelitian siswa akan dijadikan jurnal sekolah, yang akan diterbitkan diakhir tahun ini.

Acara ini bertujuan untuk membentuk budaya ilmiah, dan kerangka berpikir ilmiah para siswa. Tentuna tetap didasari dengan nili-nilai Nurul Fikri menjadi peneliti yang tetap berjalan sesuai dengan syariat dan menjadi muslim yang baik.

Harapan dengan dari program budaya riset Nurul Fikri ini dapat menjadikan anak-anak lulusan Nurul Fikri menjadi orang-orang yang mampu berpikir ilmiah atas setiap masalah yang dihadapi. Bukan sekedar msalah pribadi, namun kelak dapat peka terhadap masalah-masalah kebangsaan.

Memang budaya riset di sekolah bukan isu yang menarik. Namun kita harus dapat menjadikan yang tak menarik menjadi menarik. Nurul Fikri ingin menjadi Trend Setter bukan menjadi orang-orang yang mengikuti tren.

 

Sumber: gulalives.com

Leave a Reply