Bulan Dzulhijjah dan momentum Iduladha menjadi saat yang tepat bagi kita untuk mengambil pelajaran dari keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Keluarga ini merupakan keluarga pilihan yang Allah Ta’ala jadikan teladan bagi umat manusia.

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing).”
(QS. Ali Imran: 33)

Salah satu sosok teladan dalam keluarga Nabi Ibrahim adalah Nabi Ismail ‘alaihissalam. Kehadirannya merupakan jawaban atas doa panjang sang ayah yang mendambakan keturunan saleh.

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang saleh.”
(QS. Ash-Shaffat: 100)

Allah kemudian mengabulkan doa tersebut dan memberikan kabar gembira kepada Nabi Ibrahim:

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ

“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar (santun).”
(QS. Ash-Shaffat: 101)

Gelar ghulāmun halīm (anak yang santun dan penyabar) yang disematkan Allah kepada Nabi Ismail bukanlah tanpa sebab. Kesantunan, kesabaran, dan kelembutan selalu tampak dalam ucapan dan sikap beliau, bahkan ketika menghadapi ujian yang sangat berat: perintah Allah agar dirinya disembelih sebagai bentuk pengorbanan.

Saat Nabi Ibrahim menyampaikan perintah tersebut, Nabi Ismail menjawab dengan penuh ketaatan dan penghormatan kepada ayahnya:

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
(QS. Ash-Shaffat: 102)

Inilah gambaran nyata bakti seorang anak kepada orang tuanya. Nabi Ismail tidak membantah, tidak mengeluh, dan tidak berkata kasar. Sebaliknya, beliau menunjukkan kesantunan yang lahir dari keimanan dan ketakwaan kepada Allah.

Di tengah kehidupan saat ini, kita terkadang merasa prihatin ketika melihat atau mendengar anak yang berbicara dengan nada tinggi kepada orang tuanya, membentak, bahkan memperlakukan mereka dengan tidak hormat. Padahal Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin telah mengajarkan adab yang mulia dalam menjaga lisan dan sikap terhadap sesama, terlebih kepada kedua orang tua.

Allah Ta’ala berfirman:

فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, jangan membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
(QS. Al-Isra: 23)

Bahkan kepada Fir’aun, seorang pemimpin yang zalim sekalipun, Allah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berbicara dengan lemah lembut.

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia sadar atau takut.”
(QS. Thaha: 44)

Melalui berbagai kisah dalam Al-Qur’an, Allah mengajarkan pentingnya kesantunan dalam berinteraksi. Salah satu teladan terbaiknya adalah Nabi Ismail ‘alaihissalam yang tetap menunjukkan penghormatan dan kelembutan kepada ayahnya, bahkan dalam situasi yang sangat berat.

Semoga anak-anak kita dan seluruh siswa-siswi kita dapat meneladani Nabi Ismail ‘alaihissalam sebagai anak yang saleh, taat kepada Allah, berbakti kepada orang tua, menghormati guru, serta menjaga tutur kata dan sikap dalam kehidupan sehari-hari.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.