Allah Ta’ala berfirman:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَهَاجَرُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ ٱللَّهِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَآئِزُونَ

“Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka, lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.” (QS. At-Taubah: 20)

Hijrah bukan sekadar perpindahan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam beserta para sahabat dari Makkah Al-Mukarramah menuju Madinah Al-Munawwarah. Hijrah merupakan titik balik peradaban Islam yang melahirkan sebuah teladan agung tentang persaudaraan sejati (ukhuwah), sebuah ikatan yang tetap menjadi inspirasi sepanjang zaman.

Peristiwa hijrah memperlihatkan bagaimana kaum Muhajirin rela meninggalkan kampung halaman, keluarga, harta benda, bahkan seluruh kenyamanan hidup demi mempertahankan keimanan. Di sisi lain, kaum Anshar menyambut mereka dengan penuh kasih sayang dan tangan terbuka, meskipun kehidupan mereka sendiri tidak berlimpah.

Mereka bukan saudara sedarah. Mereka bahkan belum pernah saling mengenal sebelumnya. Namun, iman dan Islam mempersatukan hati mereka dalam ikatan ukhuwah yang begitu kokoh. Mereka mencintai saudara-saudaranya sebagaimana mereka mencintai diri mereka sendiri.

Allah Ta’ala mengabadikan kemuliaan kaum Anshar dalam firman-Nya:

وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلْإِيمَٰنَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِى صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ أُوتُوا۟ وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

“Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Mereka tidak menaruh keinginan dalam hati terhadap apa yang diberikan kepada orang-orang Muhajirin, dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka juga memerlukan. Barang siapa dijaga dari sifat kikir, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir meriwayatkan sebuah kisah yang menggambarkan betapa mulianya akhlak kaum Anshar. Kaum Muhajirin pernah berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Wahai Rasulullah, kami belum pernah menjumpai suatu kaum seperti orang-orang yang kami datangi ini. Orang-orang yang hidup sederhana di antara mereka tetap berbagi kepada kami, sedangkan orang-orang yang berkecukupan sangat banyak memberikan bantuan. Mereka telah memenuhi kebutuhan kami dan berbagi kebahagiaan bersama kami, hingga kami khawatir seluruh pahala akan menjadi milik mereka.”

Mendengar hal itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Tidak, selama kalian mendoakan dan memuji mereka kepada Allah.”

Kisah tersebut menunjukkan bahwa kemuliaan kaum Anshar bukan hanya terletak pada kemurahan harta, tetapi juga pada keluasan hati dan ketulusan iman. Sikap itu merupakan wujud nyata dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika kita bercermin pada kisah Muhajirin dan Anshar, rasanya kita patut melakukan introspeksi. Betapa sering kita masih mudah berprasangka buruk (su’uzan), bersikap perhitungan, bahkan tanpa sadar menzalimi saudara kita sendiri. Tidak jarang hubungan yang terjalin didasari kepentingan dunia, berharap balasan, atau keuntungan tertentu.

Padahal, kaum Muhajirin meninggalkan segala yang mereka cintai semata-mata karena Allah. Sebaliknya, kaum Anshar memberikan apa yang mereka miliki kepada saudara-saudaranya tanpa mengharap imbalan selain ridha Allah Ta’ala.

Inilah hakikat persaudaraan yang abadi: persaudaraan yang dibangun di atas fondasi iman dan takwa, bukan kepentingan dunia. Sebab, hubungan yang hanya didasari keuntungan dunia akan sirna, bahkan berubah menjadi permusuhan pada hari kiamat.

Allah Ta’ala berfirman:

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu meneladani keikhlasan, pengorbanan, dan ukhuwah kaum Muhajirin dan Anshar. Semoga persaudaraan yang kita bangun senantiasa dilandasi keimanan dan ketakwaan sehingga menjadi bekal menuju ridha-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.