Manusia diciptakan untuk betakwa dan menjadi khalifah. Menjadi takwa itu syarat dibukanya pintu keberkahan, apapun diri kita, takwa menjadi pakaian kita. Takwa mampu membuat kita mudah memaafkan, tidak mudah tersinggung, ridho kepada orang lain, tidak menunda kebaikan, diberi rezeki yang tidak disangka-sangka (rezeki bukan hanya uang tetapi dapat membaca Alqur’an adalah rizki), dimudahkan urusan (kemampuan kita menghadapi masalah dimudahkan), dan ditutup kesalahan kita.

Mengubah peradaban maka kita harus mengubah diri kita dan dunia. Itu sangatlah berat, diperlukan spiritual yang kuat. Bagaimana spiritual kita selalu terjaga (takwa)? Bagaimana kita mentrabiyah ruhiyah kita? Di dalam buku Tarbiyatul Aulad Fil Islam atau Pendidikan Anak Dalam Islam yang ditulis oleh Abdullah Nashis Ulwan ada lima tips untuk mempertahankan ketakwaan kita kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala, yaitu:
1. Mu’ahadah
Mu’ahadah, awal katanya ahdun yang artinya janji. Mu’ahadah adalah mengingat perjanjian dengan Allah SWT. Sebelum manusia lahir ke dunia, masih berada pada alam sulbi , yaitu di alam arwah (ruh), Allah telah membuat “kontrak” tauhid dengan ruh.

Syahadat kita itu adalah bagian dari janji kita kepada-Nya, karena makna syahadat itu adalah kita bersaksi, kita berjanji di hadapan Allah Subhnallahu wa ta’ala. Bahkan kita jika membaca doa iftitah, “inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil ‘alamin” mengutip dalam surat Al An’am itu adalah deklarasi kita, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah kepunyaan Allah.”

Hendaklah setiap kita menyendiri dan mengingat perjanjian-perjanjian yang telah kita buat kepada Allah. Dan kita lakukan ini banyak, seperti diantaranya dalam shalat-shalat, dalam wirid-wirid kita. Seperti doa pagi-petang yang selalu kita baca, “Rodhitu billahi rabba, wa bil-islami dina, wa bi Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallama nabiyyan wa rasula.”

Semoga dengan mu’ahadah kita akan tetap istiqomah dalam melaksanakan syariat Allah.

2. Muroqobah
Artinya merasa selalu diawasi oleh Allah SWT, sehingga dengan kesadaran ini mendorong manusia senantiasa rajin melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Muroqobah adalah merasakan keagungan Allah disetiap waktu dan keadaan, serta merasakan kebersamaan-Nya (ma’iyatullah) dalam sepi maupun ramai.

Cara kita selalu mengingat Allah ialah dengan tilawah. Membaca Quran sembari memahami arti dan mentaddaburi ayat-ayatnya akan membuat kita selalu ingat Allah.

Seperti salah satu dalam surat Al-Mujaadila (58) ayat 7. “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala melihat semuanya apa yang kita kerjakan, bahkan Allah mencatatnya melalui para malaikat malaikat dan itu ada di kitab catatan kit, Allah ingatkan dalam surat Al Kahfi ayat 49.

“Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,” dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun.”

Dengan muroqobah kita akan ikhlas, karena setiap perbuatan adalah untuk-Nya dan dengan muroqobah kita akan istiqomah serta tak terpengaruh oleh situasi dan kondisi apapun, karena betul-betul Allah bersama kita.

Ada beberapa jenis muroqobah, yaitu:
a. Muroqobah dalam melaksanakan ketaatan adalah dengan ikhlas kepada-Nya.
b. Muroqobah dalam kemaksiatan adalah dengan taubat, penyelsalan dan meninggalkannya.
c. Muroqobah dalam hal-hal mubah adalah dengan menjaga adab-adab terhadap Allah dan bersyukur.
d. Muroqobah dalam musibah adalah dengan ridha kepada ketentuan Allah dan memohon pertolongan dengan sabar

3. Muhasabah
Hasabah artinya ialah hitung. Jadi, muhasabah berarti introspeksi diri, menghitung diri dengan amal yang telah dilakukan. Manusia yang beruntung adalah manusia yang tahu diri, dan selalu mempersiapkan diri untuk kehidupan kelak yang abadi di yaumul akhir.

Apakah amaliyah yang kita lakukan sudah cukup menutup dosa? Kira-kita apakah kita termasuk yang tsaqulat mawa ziinuh (yang berat timbangan (kebaikan)nya) atau khaffat mawa ziinuh ( yang ringan timbangan (kebaikan)nya)?

Kalau sudah muhasabah tentang itu, maka kita lakukan pertaubatan, perbanyak istighfar. Kita baca sayyidul istighfar.

“Allaahumma anta rabbii laa ilaa ha’illaa anta khalaqtanii wa ana abduka wa anaa alaa ahdika, wawa’dika mastatha‘tu a uudzu bika min syarri maa shana’tu abuu ‘ulaka bini’matika alayya wa abuu ‘ubizdanbii faghfirlii fa innahu laa yaghfirudzunuu ba illaa anta.”

Artinya:
“Ya Allah Engkaulah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang patut disembah hanya Engkau yang menjadikan aku. Aku hambaMu dan aku dalam genggamanMu, aku dalam perjanjian beriman dan berta’at kepadaMu sekedar kesanggupan yang ada padaku. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan yang aku perbuat. Aku mengakui atas nikmat yang Engkau berikan kepadaku dan mengakui atas dosaku, aku mohon keampunanMu, tidaklah ada yang dapat mengampuni dosa seseorang, hanya Engkaulah hai Tuhanku.

Hendaklah seseorang mukmin menghisab dirinya ketika selesai melakukan amal perbuatan. Apakah tujuan amalnya untuk mendapatkan ridha Allah? Atau apakah amalnya itu diiringi riya? Apakah dia sudah memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak manusia?

4. Mu’aqabah
Mu’aqabah artinya pemberian sanksi terhadap diri sendiri. Apabila melakukan kesalahan atau sesuatu yang bersifat dosa maka ia segera menghapus dengan amal yang lebih utama meskipun terasa berat, seperti berinfak dan sebagainya .

Sanksi/denda yang dimaksudkan apabila seseorang mukmin melakukan kesalahan maka dia tidak membiarkannya. Sebab membiarkan diri dalam kesalahan akan mempermudahkan jalan untuk kesalahan yang lain.

Generasi salaf yang soleh telah memberikan teladan yang baik kepada kita. Teladan dalam masalah ketakwaan, muhasabah, mu’aqabah terhadap diri sendiri jika bersalah, serta contoh dalam bertekad untuk lebih taat jika mendapatkan dirinya lalai atas kewajiban.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Umar bin Khathab r.a pergi ke kebunnya. Ketika ia pulang, maka didapatinya orang-orang sudah selesai melaksanakan salat Ashar. Maka beliau berkata, “Aku pergi hanya untuk sebuah kebun, aku pulang orang-orang sudah salat Ashar! Kini, aku menjadikan kebunku sedekah untuk orang-orang miskin.”

5. Mujahadah
Mujahadah adalah bersungguh hati melaksanakan ibadah dan teguh berkarya amal sholeh, sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allah SWT yang sekaligus menjadi amanat serta tujuan diciptakannya manusia.

Mujahadah adalah bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah. DIsana ada makna memaksakan (mengupayakan seoptimal mungkin) diri untuk berbuat yang terbaik, menyerahkan yang terbaik dan mengoptimalkan diri dalam beramaliyah.

Dan inilah janji Allah, “Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang yang berbuat baik.” Al-Ankabut ayat 69.

Maksud mujahadah disini adalah apabila seseorang mukmin terseret dalam kemalasan, kerehatan, cinta dunia dan tidak lagi melaksanakan amal-amal sunnah serta ketaatan yang lain tepat pada waktunya maka ia harus memaksa dirinya melakukan amal-amal sunnah lebih banyak dari sebelumnya. Seorang mukmin harus tegas, serius, dan penuh ketaatan sehingga pada akhirnya ketaatan merupakan kebiasaan yang mulia bagi dirinya dan menjadi sikap yang tertanam pada dirinya.

Leave a Reply