Bertakbirlah, karena Allah sudah memberikan hidayah-Nya!

اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ.اللهُ أَكْبَرُ. وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

Gema takbir membahana seisi dunia sejak kemarin hingga saat ini, tatkala memasuki 1 Syawal 1446 Hijriyah. Tak tua atau muda, sendiri atau berjamaah begitu khusuk melantunkan takbir di masjid, surau ataupun lapangan tempat dilaksanakannya shalat idul Fitri. Bukan hanya mereka yang telah melaksanakan puasa dengan penuh ketulusan selama Ramadhan, lantunan zikir ini juga diucapkan oleh umat Islam yang tak shalat sekalipun.

Takbir artinya mengagungkan/membesarkan nama Allah. Takbir merupakan ungkapan hati atas keagungan dan kebesaran Allah Ta’alaa. Takbir yang kita dengarkan saat Idul Fitri atau Idul Adha bukan semata tanda telah berakhirnya kegiatan ibadah Ramadhan sebulan penuh. Bukan juga sebatas ungkapan kebahagiaan telah memasuki hari raya saatnya dihalalkan makan dan minum disiang hari dan berpakaian indah. Namun lebih dari itu, sejatinya Takbir yang kita lantunkan adalah ungkapan rasa syukur kita atas hidayah yang telah Allah berikan kepada kita, keluarga dan umat Islam pada umumnya atas kesempatan melaksanakan beraneka ragam kegiatan Tarbiyah (Pendidikan) selama bulan Ramadhan dengan puasa, shalat, zikir, sedekah, tarawih, qiyamullail atau ibadah lainnya.

Allah ungkapkan dalam petikan Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 185:

وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Bersyukur atas hidayah yang kita rasakan di Ramadhan lalui, dengan mudahnya kita malakukan berbagai ibadah yang bisa jadi terasa berat dilakukan di bulan selain Ramadhan.

Mudah bagi kita menyelesaikan tilawah berjuz-juz dalam sehari, bahkan beberapa kali kita bisa khatam Qur’an selama Ramadhan. Mudahnya kita mengikuti sholat tarawih atau qiyamullail dengan bacaan, sujud serta rukuk yang panjang pula, kita ikuti walau harus menahan lelah dan kantuk di pelupuk mata. Mudahnya kita mengeluarkan lembaran rupiah dari saku kita untuk diinfakan saat tromol amal berlalu di depan kita. Khusyuknya kita dalam berdoa mengangkat tangan bahkan kadang menetes airmata karena takut dan harap dalam permohonan kita kepada Allah.

Itulah beberapa contoh hidayah yang kita nikmati selama sebulan penuh di Ramadhan. Rasa itulah yang seharusnya kita syukuri dengan ungkapan Takbir, sehingga lantunan dzikir ini akan sangat terasa menembus sampai ke relung hati dan menggetarkan jiwa kita sehingga kita bisa menikmati setiap untaian kata dalam takbir tersebut.

Marilah kita bersyukur atas hidayah yang telah Allah berikan tersebut dengan terus menjaga kualitas ibadah kita di bulan Syawal dan seterusnya hingga akhir hayat kita. Jangan sampai nikmat hidayah ini hanya kita rasakan di bulan Ramadhan saja. Tidak sedikit umat Islam yang kembali dalam kesibukan dunia yang melalaikan dari kebaikan-kebaikan yang telah dilakukannya selama Ramadhan. Semoga hidayah senantiasa kekal di dalam hati kita, sampai Allah mendatangkan ajal-Nya.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”. Surat Ali Imran Ayat 8.