Quran

Guru, Pewaris Para Nabi

By November 14, 2014 No Comments

Mungkin inilah sosok yang benar-benar disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Seorang wanita hebat bernama Een Sukaesih ini mengabdi sebagai guru tanpa henti meskipun dirinya lumpuh selama 22 tahun. Yang lebih luar biasa Een Sukaesih mengajar murid tanpa dibayar. Dengan segala keterbatasannya, Een terus membantu anak-anak belajar meski itu mesti dilakukan di kamar tidurnya yang hanya berukuran 2×3 meter. Dinding kamar Een dipenuhi coretan berisi catatan pelajaran.
Een adalah lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan D3 di IKIP Bandung (kini UPI Bandung). Namun, takdir membuatnya menjalani profesi guru dengan kondisi lumpuh. Sebelum lumpuh datang menghampirinya, Een adalah CPNS di sebuah SMA di Sumedang. Namun, tiba-tiba tangan dan kakinya lemas dan tidak bisa bergerak. Sakit yang beliau derita selama 27 tahun, sejak tahun 1985 menjadikan beliau tidak dapat menggerakkan seluruh anggota badannya, hanya bagian kepala saja yang dapat digerakkan, sementara seluruh bagian tubuh lainnya lumpuh total, badannya kian hari kian menyusut dan mengkerut, kondisi tersebut menjadikannya seolah bayi yang tidak berdaya.

Beliau hanya dapat berbicara, tersenyum dan berekspresi layaknya kita manusia normal. Beliau Mengajar dan memberikan ilmunya kepada para tetangganya yang bersekolah di SD, MI, SMP, MTs setiap hari, mulai jam 8 pagi hingga sore hari, terkadang hingga jam 20.00 secara bergiliran berdasarkan tingkatan pendidikan dan berjadwal sesuai dengan kondisi persekolahan para siswanya.

Banyak mata pelajaran yang beliau ajarkan pada para siswanya, mulai dari Pendidikan Agama Islam, Matematika, Bahasa Inggris hingga pengenalan komputer. Dan yang paling mengagumkan adalah bahwa para siswa yang belajar di tempat beliau tidak dikenakan atau diwajibkan membayar biaya sepeserpun, bahkan beliau rela untuk mengeluarkan dana sendiri bila ada siswanya yang tidak mempunyai buku atau alat tulis lainnya, beliau dengan rela hati merogoh kantongnya untuk membelikan alat-alat tulis, buku tulis hingga LKS para siswa. (–dikutip dari internet)

Berbahagialah kita yang selalu menyibukkan diri dalam kegiatan yang mulia, menjadi pembelajar yang selalu berupaya meningkatkan kemampuan diri, dan sekaligus pada saat yang bersamaan menjadi pengajar yang menanamkan kebaikan dan kebajikan kepada anak didik kita.

Berbahagia, karena kita berada dalam pusaran dari bagian dunia yang mulia, bukan bagian dari dunia yang hina dina. Karena sesungguhnya,  seluruh dunia dan seisinya dihinakan dan dilaknat oleh Allah SWT, kecuali aktivitas dzikrullah (selalu mengingat dan bekerja atas nama Allah SWT, dan dalam rangka taat kepadaNya) serta orang-orang yang berilmu dan yang menuntut ilmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

??????????? ?? ?? ????????? ???????? ????? ??????? ?????? ?????? ?????? ??? ????????? ??????????? ?????????? ?????

“Dunia itu terlaknat dan segala yang terkandung di dalamnya pun terlaknat, kecuali orang yang berdzikir kepada Allah, yang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang ‘alim atau penuntut ilmu syar’i.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah. Dalam Shohihul Jami’, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan)

Berbanggalah, karena kita berjalan di atas jejak-jejak para Nabi dan Rasul, jejak para ahlul ‘ilmi dan hikmah yang menjadi bintang gemintang di langit untuk menerangi gelapnya dunia, menuntun dan membimbing umat manusia untuk meniti jalan kehidupan yang lurus sehingga sampai kepada tujuannya yang hakiki.

Guru bersibuk diri untuk mendidik, membimbing dan memberi semangat.  Guru juga juga menyampaikan ilmu, memberi nasihat. Guru sebagai:
(a) Mudarris : mengajarkan pengetahuan dan keterampilan;
(b) Mu’allim : menjelaskan kefahaman dan kedalaman suatu ilmu;
(c) Mursyid : menunjukkan dan membimbing ke jalan yang benar;
(d) Murabbi : mendidik, memelihara, mengasuh anak didiknya  menjadi manusia yang berilmu, bertaqwa dan beramal soleh.

Betapa tidak, kemuliaan mendidik dengan mengajar, melatih, dan mengembangkan segala potensi kebaikan anak-anak merupakan amanah yang sangat mulia dan sekaligus tanggung jawab yang besar.

Guru sejati adalah mereka yang dengan sabar, tekun dan penuh kasih sayang serta sangat berkeinginan agar anak didik mereka menjadi manusia yang baik.

Rasulullah SAW sebagai suri tauladan kita, patutlah dicontoh bagaimana beliau begitu sangat ingin mendidik dan menjadikan para sahabatnya sebagai orang-orang beriman dengan penuh kasih sayang. Allah SWT mensifati Rasulullah SWT sebagai Rasul yang:
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Qur’an Surah At Taubah : 128)

Begitulah seharusnya sifat pendidik terhadap anak didiknya. Sangat pengertian apa yang dialami oleh anak didiknya, sebagai wujud dari empati dan peduli yang menjadi dasar dari interaksi yang penuh kasih sayang dan keinginan yang kuat supaya mereka menjadi anak didik yang baik.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Qur’an Surah Al Ahzab : 21)

Islam menjadikan tugas guru sebagai tugas yang amat mulia,  seluruh upaya dan masa yang digunakan adalah  ibadah. Setiap langkah dari rumah ke sekolah dan pulang kerumah dari sekolah akan mendapat satu pahala dan dihapuskan satu dosa, menyampaikan ilmu secara hikmah dan ikhlas semata-mata karena Allah.

Do’a para malaikat dan seluruh penghuni langit dan bumi senantiasa menyertai para guru.

???? ????? ??????????????? ???????? ????????????? ??????????? ?????? ??????????? ???? ???????? ???????? ????????? ????????????? ????? ????????? ???????? ?????????

“Sesungguhnya Allâh, Malaikat-Malaikat-Nya, beserta penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang berada dalam sarangnya, demikian pula dengan ikan-ikan; benar-benar berdo’a untuk mereka para guru yang mengajarkan kebajikan pada manusia.” [Hadits Hasan, lih. Misykâtul Mashâbîh no. 213]

“Ada tiga golongan yang tidak boleh dipandang ringan hak mereka, sesiapa yang meremehkannya adalah munafik; Orang tua yang berpengalaman, guru-guru dan pemimpin yang adil.” –HR  At-Thabrani.

Asy-Syauqi [1]berkata dalam syairnya:

??? ???????????? ??????? ????????????? … ???? ??????????? ??? ?????? ?????????

“Sambutlah Sang Guru, dan berikan penghormatan untuknya… Hampir-hampir seorang guru menjadi seorang Rasul (atau menyamai fungsi dan kedudukannya).”

?????????? ??????? ??? ??????? ???? ???????? … ???????? ????????? ???????? ???????????

“Tahukah engkau ada orang yang lebih mulia dan lebih agung dibanding orang … yang membangun dan membina jiwa-jiwa dan akal?”

Selamat Hari Guru…!

 

Ditulis oleh :

Dr. Fahmy Alaydroes, S.Psi., MM., MEd

Leave a Reply