SIT NURUL FIKRISMA

Aksi Peduli Banjir SMA Islam Terpadu Nurul Fikri Depok

By January 30, 2014 No Comments

TUGU – Proses pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang di dalamnya tumbuh sebuah loncatan pemikiran dan penumbuhan karakter positif dalam diri peserta didik. Banyak hal yang dapat dilakukan. Yang paling efektif adalah “menerjunkan” langsung peserta didik dalam sebuah fenomena kehidupan nyata. Insya Allah, itulah yang dilakukan oleh Tim Kesiswaan SMA Islam Terpadu (SMAIT) Nurul Fikri ketika fenomena banjir melanda negeri tercinta ini.

Bermula dari program Aksi Cepat Tanggap ekstrakurikuler Bulan Sabit Merah Remaja (BSMR) SMAIT Nurul Fikri disusunlah Satuan Tugas (Satgas) Nurul Fikri Peduli yang dikomandani oleh Bapak Suratno, M.Si. Lewat aksi cepat tanggap yang luar biasa sigap, dibentuklah kepanitiaan dari peserta didik dengan filosofi bahwa seluruh peserta didik harus memiliki pengalaman luar biasa sejak dari tahapan awal.

Dari pertemuan tersebut tersebut muncullah agenda-agenda cepat tanggap berupa pembetukan tim survei, tim penggalangan dana, dan aksi turun ke lapangan. Tim BSMR survei ke daerah banjir terdekat, seperti Jakarta. Tim survei menelusuri daerah banjir Jakarta, yang terpilih akhirnya adalah Kampung Melayu karena cukup kondusif untuk Tim BSMR SMAIT Nurul Fikri.

Tim penggalangan dana cukup responsip ketika ditanya langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan. Sabtu, 18 Januari 2014 adalah hari perdana mereka menggalang dana. Cukup jeli, mereka memanfaatkan momen pertemuan orang tua siswa kelas X untuk menggalang dana, dilanjutkan dengan penggalangan dana dari siswa mulai Senin, 20 Januari 2014 sampai dengan Jumat, 24 Januari 2014.

Alamdulillah terkumpul dana sebesar Rp 8.518.800 dari orang siswa kelas X dan seluruh siswa SMAIT NF. Dana tersebut dikelola oleh tim BSMR untuk dialokasikan pada pos-pos kebutuhan sesuai dengan kondisi di lapangan.

Subhanallah, TIM BSMR mampu mengidentifikasi kebutuhan berdasarkan gambaran hasil survei. Terbentuknya Posko Peduli Banjir di SMAIT NF cukup membantu serah terima bantuan. Untuk persuasif pun Tim BSMR membuat pengumuman di Mading. Bantuan yang terkumpul sebagian besar berbentuk uang dan pakaian layak pakai walaupun Tim BSMR membuka peluang untuk selimut, handuk, dan lain-lain.

Namun, itu sangat memudahkan tim sehingga tim dapat membelanjakan uang tersebut untuk keperluan yang sesuai. Akhirnya Tim BSMR membeli berbagai kebutuhan, seperti diapers, susu, hadiah (ATK, Buku, penghapus, buku gambar, penggaris), makanan ringan, dan air mineral.

Tibalah waktunya Tim BSMR melaju ke Kampung Melayu pada 25 Januari 2014, pukul 08.30 20 Relawan dari Tim BSMR SMAIT NF menuju Masjid At-Taqwa At Tohiriyyah Kampung Melayu. Pembimbing Pak Suratno dan Bu Euis dengan nama relawan sebagai berikut: M. Fityan A (XI IPA 1), M. Fachriansyah (XI IPS1), Zulfiqor Salim (XI IPS 1), M. Fauzan (XI IPS 1), Syauqi Assegaf (XI IPA 1), Rachada N (XI IPA 1), Sinung F.W (XI IPS 1), Nisrina Ulfah (XI IPA 2), Wilda Khairani (XI IPA 2), Wafa Zakiah (XI IPA 2), Hasti Raissa (XI IPA 2), Ghumaydha AT (XI IPA 2), Sabrina Z (XI IPA 2), Fathina A. (XI IPA 2), Diajeng Salsabila ( XD), Sarah M (XD), Rifdah (XD), Atqiya S (XD), Ghina C (XD).

Start dari SMAIT NF, seluruh relawan berangkat dengan 4 mobil menuju lokasi. Aroma banjir sudah terasa ketika relawan sampai di terminal Kampung Melayu menuju Pasar Gembrong. Udara cerah, namu sisa-sisa banjir masih kentara. Di beberapa titik air masih setingga pinggang orang deasa. Penduduk beraktivitas menggunakan perahu karet. Terlihat beberapa penduduk berupaya membersihakn sisa-sisa banjir.

Memasuki lokasi penampungan pengungsi banjir terlihart banyak posko peduli dari berbagai organisasi, mulai dari Angkatan Darat, Brimob, Ormas, Parpol, dan jajaran Industri seperti produk mi instant dan produk mesin cuci. Mereka membuat terobosan dengan gerai mie rebus untuk pengungsi serta membuka laundry gratis, itu sangat sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Sungai besar yang berada di jalan layang luber masuk rumah. Terlihat rumah penduduk dan jalan akses masuk kampung terendam banjir. Batas antara sungai dan jalan akses masuk hanya ditandai dengan sembulan jeruji besi. Sangat berbabahaya jika pendudukan beraktiv itas di sekitar karena kedalaman.

Memasuki area penampungan ditandai dengan hiruk pikuk pengungsi, mulai bayi sampai nenek dan kakek. Semuanya membaur jadi satu di lantai dasar masjid. Sasaran tim BSMR adalah lantai 2 karena selain memberikan bantuan berupa kebutuhan primer, Tim akan melaksakan aksi psikososial untuk anak-anak korban banjir.

Agenda dimulai dengan briefing apa yang dilakukan setelah melihat medan pengungsian yang sebenarnya. Alhamdulillah tersusun agenda dengan cepat. Agenda pertama adalah memperkaya wawasan dan menyamakan suhu untuk seluruh relawan Tim BSMR dengan berkeliling ke akses terdekat tempat penampungan sehingga relawan mendapatkan chemistry dan memiliki suhu yang sama. Setelah kemabli ke tempat pengungsian, kami melaksakan serah terima bantuan dengan pengurus posko, kemudian dilanjutkan dengan makan siang ala kadarnya. Setelah shalat dhuhur berjamaah, mulailah aksi  psikososial relawan.

Tanpa dikomandoi lagi, tim langsung bergerak untuk mengumpulkan anak-anak di sela-sela hiruk pikuk seluruh pengungsi. Alhamdulillah, terkumpul skeitar 110 anak dari usia batita sampai SMP kelas VII. Relawan bergerak cepat sehingga langsung ada pembagian tugas untuk mengadakan aksi empatik mengurangi efek traumatik anak-anak korban banjir. Tim dibagi menjadi 4 kelompok dan masing-masing bekerja dengan cepat dan penuh kesungguhan. Dari pukul 13-15 -14.15 tidak terasa seluruh relawan berhasil mengajak 110 anak bernyanyi, mewarnai, meneriakan yel, bercerita, dan diakhiri dengan pembagian bantuan berupa buku dan alat tulis, susu, dan makanan ringan. Jauh sekali dari kesan berebutan atau ada korban yang terinjak-injak seperti yang kita saksikan di berita-berita TV. Alhamdulillah acara berakhir pukul 14.30. Seluruh relawan berkumpul dan melakukan evaluasi.

Semua relawan memiliki satu visi, yaitu ingin berbagi dengan sesama dan berempati sehingga kelelahan-kelelahan tidak terpancar dari wajah mereka. Yang ada adalah suatu optimisme, bagaimana caranya agar para korban banjir mendapatkan secercah kesenangan dan kebahagiaan di sela-sela sibuknya pikiran mereka untuk merencanakan apa yang akan mereka lakukan nanti kalau banjir sudah surut dan mereka kembali ke rumah. (*EE)

Leave a Reply