Alhamdulillah, tak terasa bulan Ramadhan telah berlalu begitu cepat meninggalkan kita. Rasanya baru kemarin kita menyambutnya dengan penuh suka cita, dan hari ini kita telah berada di bulan Syawal.
Semoga seluruh amal ibadah yang kita lakukan selama Ramadhan diterima oleh Allah SWT, dan semoga segala dosa kita diampuni oleh-Nya.
Gema takbir yang berkumandang bukanlah semata karena berakhirnya Ramadhan.
Bukan pula sekadar ungkapan suka cita di hari raya Idul Fitri.
Bukan juga hanya tanda telah halalnya makan dan minum di siang hari.
Takbir adalah ungkapan rasa syukur atas hidayah Allah Ta’ala yang diberikan melalui ibadah Ramadhan.
“Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Di bulan Ramadhan, begitu mudahnya kita melaksanakan shalat berjamaah, bahkan dengan rakaat yang panjang dan bacaan yang lama. Bukan hanya shalat wajib, tetapi juga shalat sunnah menghiasi hari-hari kita.
Di bulan Ramadhan, begitu ringan tangan kita membantu sesama. Zakat, infak, dan sedekah menjadi bagian dari keseharian kita.
Di bulan Ramadhan, lisan kita basah dengan dzikir dan doa. Bahkan tak sedikit yang diiringi dengan deraian air mata—tanda harap dan permohonan yang tulus dari hati terdalam.
Di bulan Ramadhan, kita meluangkan waktu untuk tilawah Al-Qur’an. Bukan hanya beberapa ayat atau surat, tetapi berlembar-lembar hingga berkali-kali khatam.
Itulah sekelumit ibadah kita di bulan Ramadhan.
Kini kita telah berada di bulan Syawal.
Inilah waktu pembuktian dari ibadah Ramadhan kita.
Apakah shalat masih menjadi prioritas kita?
Apakah zakat, infak, dan sedekah masih kita jaga?
Apakah dzikir dan doa masih terlantun di lisan kita?
Apakah ayat-ayat Al-Qur’an masih terdengar di rumah-rumah kita?
Ramadhan memang telah berakhir, namun kita berharap hidayah Allah tidak berkurang—apalagi sampai menghilang.
Kita terus memohon agar hati ini tidak berpaling dari petunjuk yang telah diberikan kepada kita.
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”
(QS. Ali Imran: 8)
Lalu, apa yang harus kita lakukan agar hidayah ini tetap terjaga?
Pertama: Bekali diri dengan ilmu.
Ikutilah pengajian secara rutin agar pemahaman kita terus bertambah dan kesalahan yang selama ini ada dapat diperbaiki.
Jangan merasa puas dengan ilmu yang kita miliki, terlebih jika hanya didapat secara turun-temurun tanpa dasar yang jelas. Jangan sampai kita beribadah hanya karena ikut-ikutan.
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab: ‘Tidak, kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’”
(QS. Al-Baqarah: 170)
Bahkan Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk terus meminta tambahan ilmu:
“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”
(QS. Thaha: 114)
Kedua: Bergaul dengan orang-orang yang baik.
Pilihlah lingkungan yang mampu menguatkan iman dan memberi teladan kebaikan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seseorang tergantung agama teman dekatnya, maka perhatikanlah dengan siapa ia berteman.”
(HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Jangan sampai kita menyesal karena salah memilih teman.
“Wahai celakalah aku, sekiranya aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku.”
(QS. Al-Furqan: 28-29)
Ketiga: Budayakan saling menasihati.
Kehidupan akan lebih terjaga ketika kita saling mengingatkan dalam kebaikan.
Suami menasihati istri, dan sebaliknya.
Orang tua menasihati anak, dan juga siap dinasihati.
Dengan semangat saling menasihati, insyaAllah kita tidak akan tenggelam dalam kesalahan.
“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”
(QS. Al-‘Ashr: 2–3)
Semoga kita terus mampu menjaga hidayah yang telah Allah limpahkan kepada kita dan keluarga, khususnya dari Ramadhan tahun ini.
Semoga kita bisa merawatnya hingga akhir hayat, dan diwafatkan dalam keadaan berserah diri kepada-Nya.
“Walaa tamuutunna illa wa antum muslimun.”
(Janganlah kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan Muslim)
Akhirnya, mari kita bermunajat kepada Allah…
Semoga seluruh amal ibadah kita diterima, segala kesalahan diampuni, dan kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan di tahun berikutnya.
Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.











Leave A Comment