Kita telah berada di pertengahan bulan Sya’ban. Tak lama lagi, Ramadhan akan menyapa. Hati orang beriman mana yang tidak berbahagia menyambut kedatangannya?

Ibadah puasa Ramadhan adalah panggilan istimewa dari Allah Ta’ala yang diawali dengan seruan penuh cinta: “Yaa Ayyuhalladziina amanuu…” (Wahai orang-orang yang beriman). Panggilan ini bukan untuk semua manusia, melainkan khusus bagi mereka yang beriman. Sebuah panggilan yang menunjukkan kemuliaan dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Orang beriman adalah mereka yang selalu siap menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, termasuk perintah berpuasa selama sebulan penuh. Bagi mereka, bukan persoalan berat atau ringan. Sikap seorang mukmin adalah mendengar dan menaati.

Terdapat 89 ayat dalam Al-Qur’an yang diawali dengan seruan “Yaa Ayyuhalladziina amanuu”. Setiap seruan itu menandakan tugas dan tanggung jawab. Sebagaimana Allah mengingatkan:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا۟ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, adalah ucapan: ‘Kami mendengar dan kami patuh.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Al-Mu’minun: 51)

Orang yang paling berbahagia menyambut Ramadhan adalah mereka yang bertakwa. Karena merekalah yang secara khusus dipanggil dalam perintah puasa, sebagaimana tujuan akhirnya adalah la‘allakum tattaquun — agar kamu bertakwa.

Sebagai orang beriman, sudah selayaknya kita mempersiapkan diri dan keluarga agar Ramadhan tahun ini menjadi lebih baik dari sebelumnya. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang panjang usianya dan semakin baik amalnya? Maka ketika Allah masih memberi kesempatan berjumpa dengan Ramadhan tahun ini, itu adalah anugerah besar yang harus disambut dengan komitmen perbaikan.

Karena itu, penting bagi kita untuk melakukan evaluasi. Sejenak, mari merenung: bagaimana potret shalat kita tahun lalu? Bagaimana kualitas zikir, tarawih, qiyamullail, infak, bahkan i’tikaf kita?

Jika sudah baik, alhamdulillah — mari kita pertahankan dan tingkatkan. Namun jika masih ada kekurangan, belum maksimal, atau belum sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka inilah saatnya berkomitmen untuk memperbaikinya.

Terkadang kita merasa amal kita sudah baik dan diterima di sisi Allah. Namun tanpa muhasabah, bisa jadi kita terperdaya oleh perasaan sendiri. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِٱلْأَخْسَرِينَ أَعْمَٰلًا
“Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”

ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
“Yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.”
(QS. Al-Kahfi: 103–104)

Ayat ini menjadi pengingat bagi kita semua. Jangan sampai amal yang kita anggap baik ternyata hanya baik dalam persepsi kita, namun jauh dari ridha Allah, bahkan menyelisihi apa yang diperintahkan-Nya dan dicontohkan Rasulullah.

Inilah pentingnya muhasabah — menghitung kembali setiap amal yang telah lalu, termasuk Ramadhan tahun sebelumnya. Sudahkah ia benar-benar sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?

Semoga Ramadhan yang akan datang menjadi momentum perbaikan diri, penguatan iman, dan peningkatan kualitas ibadah kita.

Selamat menyambut Ramadhan, bulan agung yang penuh berkah.

Semoga Allah memudahkan kita meraih derajat takwa. Aamiin.