Kalimat ini mungkin terdengar sederhana. Namun jika kita merujuk kepada Al-Qur’an tentang ciri-ciri orang bertakwa, kita akan menemukan bahwa “bangun pagi” — bahkan sebelum fajar — adalah salah satu kebiasaan mulia mereka.

Allah Ta’ala menjelaskan dalam QS. Adz-Dzariyat (51): 15–19:

إِنَّ ٱلْمُتَّقِينَ فِى جَنَّٰتٍ وَعُيُونٍ
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman (surga) dan mata air-mata air,

ءَاخِذِينَ مَآ ءَاتَىٰهُمْ رَبُّهُمْ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا۟ قَبْلَ ذَٰلِكَ مُحْسِنِينَ
Sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan.

كَانُوا۟ قَلِيلًا مِّنَ ٱلَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ
Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.

وَبِٱلْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.

Kemudian dalam QS. Ali ‘Imran: 17, Allah kembali menyebutkan ciri orang-orang mulia itu:

ٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّادِقِينَ وَٱلْقَٰنِتِينَ وَٱلْمُنفِقِينَ وَٱلْمُسْتَغْفِرِينَ بِٱلْأَسْحَارِ
(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.

Dari kedua ayat ini, kita memahami bahwa salah satu kebiasaan orang bertakwa adalah beristighfar di waktu sahur — waktu menjelang Subuh. Artinya, mereka sudah terjaga sebelum fajar menyingsing. Mereka tidak tenggelam dalam tidur panjang hingga melewatkan waktu-waktu utama ibadah.

Inilah yang menunjukkan bahwa orang bertakwa adalah pribadi yang terbiasa bangun pagi, bahkan sebelum Subuh. Mereka tidak menjadikan keterlambatan sebagai kebiasaan, dan tidak pula ringan meninggalkan shalat Subuh berjamaah.

Jika selama ini kita masih sering terlambat bangun dan kerap tertinggal shalat Subuh, maka jadikanlah salah satu ciri orang bertakwa ini sebagai target Ramadhan tahun ini. Selama sebulan penuh, kita dilatih untuk bangun sebelum Subuh demi makan sahur. InsyaAllah, jika dilakukan secara konsisten, kebiasaan ini akan membentuk “jam biologis” yang tetap terjaga, bahkan setelah Ramadhan berlalu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingatkan tentang beratnya shalat Subuh bagi orang-orang munafik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda:

لَيْسَ صَلاَةٌ أَثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain shalat Subuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka mengetahui keutamaan yang ada pada keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya walau harus merangkak.”
(HR. Bukhari no. 657)

Hadits ini menjadi pengingat bagi kita agar tidak meremehkan shalat Subuh. Rasa kantuk dan kebiasaan bangun terlambat bisa menjadi penghalang besar jika tidak dilatih dan diperbaiki.

Semoga Allah menjadikan kita dan keluarga termasuk golongan orang-orang bertakwa: yang bangun sebelum fajar, memperbanyak istighfar, menjaga shalat Subuh, dan istiqamah dalam ibadah. Semoga pula Allah melindungi kita dari sifat kemunafikan yang merasa berat melaksanakan shalat.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.