Roja’ adalah salah satu sifat terpuji yang harus dimiliki oleh seorang Muslim. Roja’ berarti mengharap kepada Allah, baik dikabulkannya do’a, mendapat pahala, diampuni dosanya ataupun memperoleh curahan Rahmat-Nya.

Kalimat yang sering kita dengar dalam suasana Idul Fitri, setelah sebulan kita puasa Ramadhan adalah Taqobballahu Mina wa minkum (Semoga Allah menerima amal dari kami dan kalian semua). Kalimat ini termasuk dalah kalimat Roja’, yaitu harapan agar Allah Ta’alaa menerima semua ibadah kita seperti sholat, puasa, tarawih, tilawah, zikir, i’tikaaf dan ibadah lainnya.

Ungkapan semisal ini sebenarnya bukan hanya kita dapatkan saat lebaran Idul Fitri, ungkapan yang serupa juga sebenarnya ada di dalam ayat-ayat Al Qur’an seperti yang diucapkan oleh nabi Ibrahim ‘alaihissalam saat beliau berdo’a kepada Allah Ta’alaa tatkala bersama anaknya Isma’il ‘alaihissalam waktu meninggikan pondasi ka’bah. Dalam Al Qur’an Allah abadikan do’a tersebut pada ayat ke 128 Surat Al-Baqarah:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَٰهيمُ ٱلْقَوَاعِدَ مِنَ ٱلْبَيْتِ وَإِسْمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Juga dalam do’a nabi Ibrahim ‘alaihissalam saat memohon kepada Allah agar memiliki keturunan yang terus menjaga sholatnya. Allah berfirman di dalam Al Qur’an Surat Ibrahim ayat 40:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.”

Sebagai kekasih Allah (Khalilullah), nabi Ibrahim ‘alaihissalam tetap memohon kepada Allah agar apa yang dilakukannya diterima disisi-Nya, kerendahan hatinya menjadikan khusyuk dalam do’anya mengharap ijabah dari Allah, padahal beliau sangat paham bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui setiap do’a hamba-Nya.

Kalimat ini juga diucapkan oleh istri Imran dalam nadzarnya sebagaimana terdapat dalam Surat Ali Iman ayat 35:

 إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Dari penjelasan diatas, dapat kita simpulkan bahwa do’a yang disertai dengan pengharapan dikabulkan (Taqobbal Minna) oleh Allah adalah salah satu bentuk kerendahan hati seorang hamba dihadapan Tuhannya yang juga merupakan bagian dari adab dalam berdo’a, sebagaimana yang Allah ingatkan dalam Surat Al-A’raf ayat 55:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚإِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”