Skip to main content

Sebagian orang masih memandang bahwa berbagi adalah sebuah kerugian. Ketika sebagian harta diberikan kepada orang lain, yang terlihat hanyalah angka yang berkurang. Tak heran jika muncul ungkapan seperti, “Makanya kerja!” atau “Yang bekerja saya, yang berusaha saya, mengapa hasilnya harus dinikmati orang lain?”

Cara berpikir seperti ini bukanlah hal baru. Bahkan, Al-Qur’an telah mengabadikan sikap serupa dari orang-orang yang mengingkari kebenaran. Ketika mereka diajak untuk berinfak, mereka justru menolak dengan alasan yang tampak logis menurut akal mereka.

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Infakkanlah sebagian dari rezeki yang diberikan Allah kepadamu,’ orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, ‘Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentu Dia akan memberinya makan? Kamu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.'”
(QS. Yasin: 47)

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia, tanpa bimbingan iman, cenderung mempertahankan apa yang dimilikinya. Sifat tersebut memang telah Allah jelaskan dalam Al-Qur’an.

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.”
(QS. Al-Ma’arij: 19–22)

Keimanan mengubah cara pandang seseorang terhadap harta. Seorang mukmin memahami bahwa rezeki bukan semata hasil kerja kerasnya, melainkan titipan Allah yang di dalamnya terdapat hak orang lain. Karena itu, ia tidak takut berbagi. Ia yakin bahwa hitungan Allah tidak sama dengan hitungan manusia.

Dalam perhitungan manusia, memberi berarti mengurangi. Namun dalam “matematika” Allah, memberi justru menjadi jalan bertambahnya rezeki dan keberkahan.

Allah berfirman,

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir; pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 261)

Satu benih menghasilkan tujuh bulir. Setiap bulir berisi seratus biji. Artinya, Allah menjanjikan balasan hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan lebih dari itu sesuai kehendak-Nya. Janji ini bukan sekadar motivasi, melainkan jaminan dari Dzat Yang Maha Kaya.

Rasulullah ﷺ pun menegaskan,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Sedekah tidaklah mengurangi harta.”
(HR. Muslim)

Barangkali secara kasat mata jumlah uang di tangan kita memang berkurang. Namun Allah menggantinya dengan cara yang tidak selalu dapat dihitung oleh logika. Bisa jadi melalui bertambahnya rezeki, kesehatan yang terjaga, kemudahan dalam urusan, keluarga yang harmonis, atau keberkahan hidup yang tidak ternilai.

Allah juga berfirman,

“Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya pahala sepuluh kali lipat amalnya.”
(QS. Al-An’am: 160)

Bahkan Allah kembali menegaskan,

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Apa pun yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya. Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.'”
(QS. Saba’: 39)

Janji Allah tidak pernah meleset. Setiap rupiah yang diinfakkan, setiap barang yang disedekahkan, dan setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah tidak akan pernah sia-sia. Semua akan kembali kepada pelakunya, bahkan dengan balasan yang jauh lebih baik daripada yang ia keluarkan.

Karena itu, jangan pernah takut berbagi. Harta yang disimpan belum tentu menjadi milik kita selamanya, tetapi harta yang disedekahkan akan menjadi bekal yang terus mengalir pahalanya.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang meyakini janji-Nya, ringan tangan untuk berbagi, serta dianugerahi rezeki yang halal, berkah, dan terus bertambah karena ketaatan kepada-Nya.

Leave a Reply