SIT NURUL FIKRI

Arti Kepahlawanan

By November 12, 2012May 22nd, 2018No Comments

Baru saja selesai menonton Live, Love and Music di ANTeve. Kebetulan bintang tamunya Iwan Fals yang setiap lirik lagunya begitu dalam dan penuh makna. Dipandu oleh Vincent sebagai hostnya. Di setiap pergantian lagu, Vincent melakukan obrolan dengan bang Iwan, sapaan akrabnya.

“Bang, saya fans berat bang Iwan. Bagi saya, bang Iwan adalah Pahlawan saya,” ucapnya. “Kenapa?” balas bang Iwan. “Karya-karya abang banyak menginspirasi saya,” jawab Vincent yang kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan berikutnya. “Bang, apa arti pahlawan menurut abang?” Sedikit ragu, sambil memegang-megang jenggot tipis yang menaungi dagunya, bang Iwan menjawab, “Pahlawan itu, apa ya…? Pahlawan itu ya… orang-orang yang tidak pernah menyebut dirinya pahlawan, hanya berguna. Anda, saya, kita semua pahlawan, betul?” Senyuman yang menjadi ciri khasnya menemani pandangan matanya mengitari ruangan studio yang sesak dengan fans OI (Orang Indonesia).

Percakapan itu tentunya bukan tanpa maksud. Percakapan itu berkaitan dengan hari ini, tanggal 10 November yang tertera pada kalender Indonesia sebagai hari Pahlawan. Hari dimana 6.000 pejuang Indonesia meninggal dan 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Tapi hal tersebut terjadi setelah melakukan perlawanan maksimal yang tak pernah diduga oleh pihak Inggris. Sekenanya 3 hari Surabaya tertaklukkan, menjadi 3 minggu tertaklukkan. Waktu yang fantastis untuk mempertahankan diri dari penjajah Inggris yang notabene mempunyai perangkat militer lengkap.

Orasi yang diberikan Bung Tomo kepada rakyat Surabaya mampu membangkitkan kepercayaan diri para pejuang untuk melawan para penjajah Inggris. Teringat kalimat terakhirnya, “Dan yakinlah saudara-saudara, pada akhirnya kemenangan akan berada di pihak kita. Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara, bahwa Tuhan akan melindungi kita. Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar, Merdeka!”

Wah rasa-rasanya menonton orasi bung tomo di youtube membawa saya ke alam perjuangan pada masa itu. Ya, pahlawan itu tidak pernah menyebut dirinya pahlawan. Tidak pernah merasa berjasa, typical orang tawadhu. Pahlawan itu.

Menjadikan generasi muda sebagai pahlawan tentunya menjadi salah satu tanggung jawab seorang guru. Menanamkan nilai nasionalisme, menumbuhkan daya juang, merangkai semangat membangun negeri, dan mendorong ia untuk menjadi orang yang mampu melampaui dirinya. Sikap pahlawan itu membangun pondasi bangsa. “Tidak ada bangsa yang maju jika tidak ada sikap pahlawan,” Anhar Gonggong, Dosen FIA peraih Nabil Award 2010 berpendapat.

Adapun sikap pahlawan itu adalah sikap seseorang yang mampu melampaui dirinya. Ia mampu berbuat ketika orang lain hanya duduk diam, melihat dan banyak mengeluh. Sikap yang dalam Islam disebut “mengamalkan” inilah yang disebut sebagai sikap seorang pahlawan. Perhatikanlah lirik lagu Iwan Fals berikut ini:
Bangunlah putra putri ibu pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi
Setelah itu kita berjanji
Tadi pagi esok hari atau lusa nanti
Garuda bukan burung perkutut
Sang saka bukan sandang pembalut
Dan coba kau dengarkan
Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut
Yang hanya berisikan harapan
Yang hanya berisikan khayalan

Burung Garuda, bendera merah putih kita, pancasila dan untuk muslim tentunya Alquran, bukan cuma untuk dihafal, bukan cuma berisi harapan-harapan manis. Berbuatlah, amalkan yang tertera di sana. Mulailah berbuat suatu kebaikan, maka Anda akan menjadi seorang pahlawan. Mungkin tidak dalam skala besar, tapi setidaknya Anda dapat menjadi pahlawan bagi diri sendiri dan keluarga. Bangkitlah saya, Anda, kita semua! Bangkitlah Pahlawan Indonesia! Allahu Akbar!

Leave a Reply