Parenting

Sembilan Langkah Bebaskan Anak dari Gawai

By October 23, 2018 No Comments

Pada era serba digital saat ini siapa yang tidak mengenal Gawai? Bahkan para bayi pun sudah tidak asing lagi berinteraksi dengan benda ajaib ini. Di satu sisi gawai banyak membantu manusia untuk memperoleh kemudahan-kemudahan terutama dalam hal perolehan informasi. Tetapi di sisi lain gawai dengan segala kemudahannya justru bisa berbalik merusak dan membuat si pengguna menjadi kecanduan. Karena informasi yang diberikan gawai bukan hanya informasi positif tetapi juga hal-hal negatif seperti pornografi, kekerasan dan sebagainya yang biasanya tertuang dalam aplikasi permainan (game).

Kondisi inilah yang membuat anak-anak selalu ingin terus berinteraksi dengan gawai nya. Henny S.Widyaningsih MSi mengatakan, “WHO mendefinisikan bahwa kecanduan game adalah sebagai pola perilaku bermain game yang ditandai dengan ketidakmampuan pemainnya mengontrol hasrat bermain dan menjadikan bermain game sebagai prioritas utama dibanding aktivitas lainnya,” ujarnya dalam seminar bertema “Mencegah Kecanduan Gadget pada Anak Sejak Dini” yang diselenggarakan oleh Departemen Komunikasi FISIP UI dan DRPM UI bekerja sama dengan kelurahan Kukusan Depok,16 Agustus 2018 silam.

Mengapa anak bisa kecanduan game? Menurut Henny bermain game terutama game daring atau video akan mempengaruhi Ventral Tegmental Area (VTA) pada otak yang berperan mengeluarkan dopamin, yaitu hormon yang dapat membuat kita merasa senang dan nyaman. Sensasi menyenangkan itu direkam dalam pusat memori pada otak dan sulit dihilangkan.

Dalam seminar yang dibuka oleh Drs. H. Masuryadi, Mpd Camat Beji, Depok, Henny mengatakan bahwa ada 9 hal yang harus dilakukan orang tua dalam mengatasi anak yang sudah terlanjur kencanduan gawai, yaitu:

  1. Berikan batas waktu dalam bermain gawai. Contohnya dengan membuat jadwal waktu bermain. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh WHO waktu bermain gawai bagi remaja maksimal dalam sehari semalam adalah 4 jam 17 menit. Usia 2 – 4 tahun maksimal 1 jam sementara usia 4 – 7 tahun diperbolehkan bermain gawai maksimal 2 jam. Usia 7 – 10 tahun tentunya akan meminta waktu lebih banyak ketimbang usia sebelumnya, namun tetap dalam batas kewajaran.
  2. Dampingi anak yang sedang bermain. Sebagai orang tua yang peduli kita harus tahu situs apa yang sering dibuka anak. Jenis permainan seperti apa yang sering dimainkan anak. Cobalah untuk berinteraksi sehingga anak merasa kita memahami dunianya.
  3. Alihkan anak untuk melakukan kegiatan fisik. Usahakan kegiatan ini dilakukan bersama keluarga. Seperti jalan santai, bersepeda, jogging, berenang atau olahraga lain yang menjadi kegemaran anak.
  4. Ajak anak mengeksplorasi alam terbuka. Karena dengan dibawa ke alam terbuka anak akan menemukan banyak hal yang jauh lebih menarik dari sekedar permainan dalam gawai mereka.
  5. Ciptakan kegiatan bermain yang aktif dan kreatif. Sebagai orang tua kita harus smart dalam menghadapi alat smart yang telah mencuri perhatian anak kita. Dalam menentukan permainan kreatif kita harus mengetahui apa bakat atau kegemaran anak. Untuk anak yang menyukai alam abi dan ummi bisa melakukan percobaan sains sederhana yang mengarah pada fenomena alam seperti bagaimana terjadinya hujan, terjadinya pelangi atau meneliti proses tumbuhnya tauge dan sebagainya.
  6. Bangun komunikasi tatap muka secara rutin dengan anak. Misalnya ciptakan suasana berbincang yang santai dan akrab saat makan malam bersama, saat di ruang keluarga atau sebelum tidur.
  7. Budayakan kegiatan membaca cerita/ bercerita setiap hari. Kita bisa menceritakan tentang shirah atau sejarah Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam. Shirah sahabat dan para pejuang islam. Ceritakan kisah-kisah heroik mereka dalam menegakkan panji-panji islam. Ritual bercerita ini bisa dilakukan saat menjelang tidur atau kapan saja sesuai moment.
  8. Berikan reward dan punishment terhadap kesepakatan. Jika anak mampu mengikuti aturan dalam bermain gawai yang sudah disepakati bersama maka berikan reward yang menyenangkan. Reward bisa berupa mainan sederhana yang sangat dia inginkan, mengajaknya jalan-jalan atau sebuah pelukan, ciuman dan pujian. Tapi jangan lupa abi dan ummi juga harus memberikan punishment apabila anak melanggar kesepakatan. Punishment dapat berupa mengurangi jatahnya bermain gawai atau hal lain yang sifatnya mengambil sesuatu yang menjadi kesukaannya.
  9. Tegas dan konsisten dalam menerapkan aturan dan kesepakatan yang telah dibuat. Mungkin ini terlihat sepele. Tetapi sesungguhnya inilah kunci yang membuat semuanya dapat berjalan sesuai harapan. Abi dan ummi tidak boleh putus asa dalam mengawal anak hingga mereka benar-benar terlepas dari kecanduannya terhadap gawai. Jangan mudah tergoda atau merasa kasihan jika anak merengek atau terlihat sedih. Tegarkan hati demi masa depan anak. Selain itu abi dan ummi juga harus konsisten mengikuti aturan. Jangan sampai anak dilarang main gawai sementara abi dan ummi malah asik dengan gawai masing-masing. Usahkan jika ada hal yang sangat penting dan mengharuskan abi dan ummi membuka gawai lakukanlah di tempat yang tersembunyi sehingga anak tidak melihat.

Diakhir diskusi, Henny mengatakan bahwa membangun komunikasi yang efektif dengan anak merupakan kunci untuk menyelesaikan setiap masalah yang terjadi. Yaitu komunikasi tatap muka dengan kedekatan fisik dan ikatan perasaan yang mendalam. Lakukan komunikasi dengan penuh rasa cinta maka anak akan mengingat seumur hidupnya. “Jadilah orang tua yang smart, lebih smart dari gawai yang telah mencuri hati anak sehingga kita bisa mengalahkan pesona gawai dan kembali merebut perhatian anak. “

Sumber: https://abiummi.com/sembilan-langkah-bebaskan-anak-dari-gawai/

Leave a Reply