Dikutip dari laman kompas.com Guru Besar dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Solehuddin mengatakan, pendidikan karakter untuk anak usia dini (AUD) tidak bisa hanya dilakukan dengan membahas isu-isu moral.

Menurut Solehuddin, pendidikan karakter harus memberikan pengalaman yang kaya dan nyata kepada anak serta anak dapat melihat akibat dari perilakunya tersebut. Solehuddin menilai, pendidikan karakter perlu dilakukan berbagai pihak terkait, khususnya guru dan orangtua. Bagi umat beragama, pendidikan keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa perlu menjadi bagian dari pendidikan karakter.

Menurutnya, terdapat sejumlah persoalan dalam pendidikan karakter di rumah, sekolah, dan masyarakat yang membuatnya kurang efektif. Hal itu seperti kurangnya pengetahuan dan keterampilan orangtua tentang pendidikan karakter, kondisi sosial-ekonomi keluarga yang kurang mendukung, hingga kekurangmampuan orangtua untuk berperan sebagai teladan.

Terkait pembelajaran berbasis bimbingan tersebut, Solehuddin pun menilai pendidikan karakter sangat fundamental untuk anak usia dini (AUD). Sebab pendidikan karakter bisa menjadi bekal bagi anak dalam membentuknya menjadi warga negara yang baik dalam batasan perilaku moral.

“Bahkan, dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), pendidikan karakter menjadi unsur yang paling utama,” ungkapnya. Solehuddin menyebut, karakter adalah bagian dari kepribadian yang terkait dengan judgment perilaku seseorang berdasarkan standar moral atau etis, seperti kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab.

Menurut Lickona (1991), terangnya, karakter terdiri atas tiga komponen utama, yakni pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral. Tiga komponen karakter tersebut diperlukan untuk mengarahkan kehidupan moral atau untuk membangun kematangan moral seseorang.

Sebagai orang beragama, Solehuddin berpendapat, unsur keimanan kepada Yang Maha Kuasa merupakan akan memperkuat perilaku moral seseorang.

Dia menambahkan, karakter merupakan kualitas perilaku moral dan etis yang cenderung dilakukan seseorang. Karakter tidak bersifat instrumental, tetapi lebih merupakan kecenderungan perilaku yang konsisten.

“Dalam kehidupan nyata, karakter akan berwujud sebagai performance character (seperti etika kerja) dan moral character (seperti hormat kepada orang lain),” paparnya.

Oleh karena itu, dia menyimpulkan, pendidikan karakter adalah upaya mengembangkan karakter baik pada anak. Dalam hal ini, pendidikan karakter seyogianya menyediakan berbagai aktivitas untuk mempraktikkan perilaku yang mengembangkan semua aspek karakter anak yang baik.

Sebagai informasi, Solehuddin sendiriditetapkan sebagai profesor/guru besar UPI terhitung mulai 1 Desember 2019 dalam bidang Ilmu Bimbingan dan Konseling Anak melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 147234/MPK/KP/2019.

Sumber: kompas.com

Leave a Reply