Quran

Israel, Yahudi Akhir Zaman

By January 18, 2013 No Comments

Ad-dajjal merupakan representasi thoghut (penguasa batil yang melampaui batas) di Akhir Zaman menjelang tibanya Hari Kiamat. Ia merupakan Fir’aun modern di penghujung berakhirnya perjalanan dunia. Ketika ia hadir ia akan mengaku dirinya merupakan Rabb semesta alam. Persis sebagaimana Fir’aun dahulu kala.

“Pergilah kamu (wahai Musa as) kepada Firaun, sesungguhnya dia telah thoghoo (melampaui batas),” QS An-Nazi’at : 17

“Tetapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (Seraya) berkata, “Akulah Rabbmu yang paling tinggi.”

Bayangkan, sosok seperti inilah yang dijadikan pemimpin oleh kaum yahudi. Maka sudah sepantasnya Allah murka sehingga menggerakkan alam agar turut bergabung dengan pihak pasukan Islam melawan pasukan yahudi pendukung Ad-dajjal. Bagi Allah hal itu bukanlah perkara yang sulit. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Pantas bila Ahmad Thomson di dalam bukunya berjudul “Sistem Dajjal” mengatakan bahwa sebelum keluarnya Dajjal, maka kaum yahudi menjadi master-mind pembentukan Novus Ordo Seclorum (the New World Order alias Tatanan Dunia Baru) yang tidak lain merupakan Sistem Dajjal untuk menyambut kehadiran sang pemimpin bermata satu, yakni Ad-dajjal.

Kaum yahudi menjadi the unseen force (kekuatan yang tidak tampak) menyetir berbagai pihak yang berpengaruh di tengah masyarakat (para pemimpin, selebritis, pengusaha, pemuka agama) untuk mengikuti kemauan mereka yaitu turut mewujudkan sistem yang compatible dengan Dajjalic Values (nilai-nilai Dajjal) yang sudah barang tentu bertentangan dengan nilai-nilai Rabbani dan Nabawi. Kekuatan di belakang layar ini sering disebut dengan the Jewish Lobby. Ia bisa mengambil bentuk organisasi secret societies (perkumpulan rahasia) seperti gerakan Freemasonry, Illuminati, Kabbalah, Knight Templars dan lain sebagainya.

Nabi Muhammad menegaskan bahwa hubungan antara kaum muslimin dan kaum yahudi merupakan suatu hubungan yang bakal berujung kepada munculnya sebuah konfrontasi fisik alias perang. Mustahil diharapkan timbulnya perdamaian antara kedua belah fihak yang memang secara mendasar berbeda satu sama lain.

Kaum muslimin merupakan sekumpulan hamba-hamba Allah yang (pada umumnya) tunduk patuh berserah-diri kepada Allah. Sedangkan kaum yahudi merupakan sekumpulan manusia yang (pada umumnya) bersikap menentang bahkan senantiasa menantang Allah. Sehingga Nabi Muhammad diberitahu Allah bahwa sampai hari kiamat tidak mungkin bisa muncul kondisi damai antara kedua belah pihak ini. Adalah suatu pengingkaran akan sunnatullah bila seseorang mengharapkan munculnya perdamaian antara kedua kelompok manusia ini. Keduanya sedemikian bertolak-belakang satu sama lain sehingga ujung akhir di antara keduanya -sebelum datangnya hari kiamat- ialah terjadinya perang.

Nabi Muhammad tidak mengatakan bahwa batu dan pohon bakal memanggil, “Hai pasukan Palestina, hai pasukan Mesir, hai pasukan Jordan, hai pasukan Indonesia, hai pasukan Malaysia dan sejenisnya…” Tetapi seluruhnya sudah meninggalkan dan menanggalkan berbagai atribut selain yang menjadikan mereka mulia di mata Allah, yaitu sebagai hamba-hamba Allah yang patuh dan berserah-diri kepadaNya. Jika mereka masih saja berkutat membanggakan diri dan kelompoknya berdasarkan bendera suku atau bangsa atau partai atau organisasi atau apapun, maka mustahil Allah akan menyatukan mereka sehingga ditakuti oleh pasukan yahudi. Sedangkan kaum yahudi saja –dalam kebatilannya- rela menyingkirkan berbagai atribut asal-usul aneka kebangsaan dan warna kulit mereka untuk hanya mengibarkan bendera yahudi, namun kemudian kita –di jalan Allah- tidak yakin dengan bendera Islam.

Tiada ilah selain Allah Muhammad adalah utusan Allah. Nabi Muhammad mengecualikan pohon ghorqod. Inilah satu-satunya pohon yang tidak akan memberitahu pasukan Islam soal keberadaan pasukan yahudi. Karena pohon ini kata Nabi merupakan pohon milik kaum yahudi. Ironisnya, dewasa ini pemerintah Zionis Israel justru sedang menggalakan mega-proyek penghijauan negara Israel dengan menanam pohon sebanyak-banyaknya. Dan salah satu pohon yang dianjurkan untuk ditanam ialah pohon ghorqod. Artinya, mereka (kaum yahudi) tampaknya jauh lebih paham hadits Nabi tersebut daripada sebagian besar ummat Islam sendiri yang bahkan barangkali baru pertama kali mendengar hadits ini.

Mereka sudah ke tingkat bersiap-siap menghadapi hari konfrontasi dua pasukan tersebut sehingga menanam pohon ghorqod agar tahu kemana harus berlindung, sedangkan umat Islam ada yang bahkan tidak tahu adanya hadits ini. Sehingga kebodohannya menyebabkan dia tidak terbayang akan adanya perang antara pasukan Islam melawan pasukan yahudi. Malah menyebabkan dirinya turut meneriakkan pentingnya mewujudkan perdamaian antara kaum muslimin dengan bangsa yahudi.

Bahkan lebih jauh lagi, dia menunjukkan simpatinya kepada bangsa Israel dan negara yahudi yang mereka dirikan secara zalim dan ilegal di tanah suci para Nabi dan Rasul, tanah tempat mi’raj-nya Nabi Muhammad. Sehingga kitapun terkejut mendengar kabar bahwa di ibukota negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia ini ada sebagian penduduknya yang berencana ingin turut serta merayakan hari ulang tahun ke-63 berdirinya negara yahudi zionis Israel.

Leave a Reply