Karya Guru

Toilet Putra Disini!

By November 1, 2007 No Comments

Karya: Achmad Fauzi (Juara 3 Lomba Karya Tulis Guru)

Jatah beras Emak bulan ini belum lagi ku beli. Semua gaji ludes untuk keperluan gono-gini. Masa iya harus tertunda dan terlewat lagi seperti bulan-bulan sebelumnya. Ah jangan… Sesulit apapun kondisi keuangan keluarga, aku harus membelikannya. “Maafkan aku, Mak! Dan untuk yang kesekian kalinya, Mak!” kataku dalam jerit pedih perasaan dan batinku. Begitulah lamunan panjangku waktu itu, padahal sudah genap 10 tahun usia mengajarku di yayasan ini.

Tepat dipenghujung Juli 2004 dan di hari pertama pekan keempat, yakni Rabu yang sangat terik panas dan penat. Jarum pendek jam dinding di kelasku menunjukkan angka delapan dan jarum panjangnya bergerak maju menuju angka sembilan. Saat anak-anak muridku begitu ceria memainkan bola-bola mereka bersama pak Singgih yang kini telah mengajar di sekolah lain.

Di lapangan yang hampir pasti tak pernah bersih bahkan layak disebut empang karena hampir selalu terisi genangan air limbah warga, bila hujan datang. Aku teringat lagi wajah Emakku yang aku cintai. Walau wajahnya sudah dipenuhi lipatan-lipatan keriput dan jalannya mulai goyah serta pikiran sehatnya kadang diiringi lupa-lupa. Kulamunkan lagi sosok Emakku. Aku sangat merindukannya. Ingin segera kukirim beras jatah bulan ini untuknya. Agar sejumput kasihnya, keceriaaan wajahnya, kesabaran dan ketabahannya selalu setia hadir dalam lamunan kosongku waktu itu.

Emak, sosok wanita tegar yang banyak memberikan pelajaran berharga bagi hidupku. Langsung melalui kehidupan yang keras, kejam dan tak berpihak pada keluargaku. Dan Emak yang banyak mengilhamiku segudang metodologi dan cara cara mendidik melalui kenyataan pahit tentang kehidupan. Yah, kekerasan hidup dan perjuangan, pahit dan getirnya pengalaman Emak membesarkanku beserta 11 saudara kandungku. Saat lamunanku begitu bebas menerawang, mengingat apa saja yang telah dilakukannya padaku dan saudara-saudaraku. Mulai gagang sapunya yang selalu patah setelah memukuli pantatku karena kekesalannya mendengar rengekku minta jajan, jari-jari kokohnya yang kelelahan mencubit kanan kiri pahaku. Bakiak copot berpaku yang Emak pukulkan ke kepala kakak perempuanku hingga darah segar mengalir melalui sela sela rambutnya karena luapan emosi Emak yang tak terkendalikan melihat kemalasannya.

Bekas gigitan Emak yang membentuk jiplakan di paha adik-adikku yang menjengkelkan. Terbayang semua terus dan terus terbayang satu persatu. Setiap kali kuingat kengerian itu semakin membulatkan sumpah dan tekadku untuk tidak menirunya. Kalau aku besar nanti, aku tidak mau seperti Emak dalam meluapkan kekesalan hati, perasaan dan emosinya kepada anak-anak. Dan kini aku sudah besar, dan aku guru.

Hari-hariku berhiaskan anak-anak, dikelilingi anak-anak, bersama anak anak. Allah, jangan beri kesempatan sekali saja dalam hidupku untuk melukai dan menyakiti para penyejuk mata hatiku. Tapi Emak adalah Emakku, apapun yang dilakukannya pada saudara dan diriku, aku tetap mencintainya. Kecintaan seratus persen yang tak dapat ditawar lagi dan sudah harga mati. Semua keburukannnya adalah pengalaman berharga hidupku. Dan semua kebaikannya haruslah menghiasi hari-hari hidupku.

Terbayang pula olehku betapa besar pembelaannya untukku, saat telingaku disentil bang Bedur karena anak semata wayangnya menangis setelah berkelahi denganku. Emak begitu gigih membelaku. Sehingga perkelahian berganti antara bang Bedur melawan Emakku. Ah, untuk lamunan yang satu ini rekah senyumku begitu lebar dan sumringah. Lamunanku sempat buntu hari itu, aku sadar dan kembali sadar bahwa beras jatah bulanan untuk Emak belum juga kukirim, menambah perih dan pedih hatiku.  Ah, rejeki tidak kemana-mana, kalau Allah mau dalam bilangan detikpun pasti beras jatah Emak bisa kukirim. Ku lamunkan lagi berjuta kenanganku bersama Emak dalam suka dan dukanya.

“Pak, paak… Paaaaak…! Ih bapak aneh, aku panggil enggak sadar,” kata Ain murid perempuan di kelas dua menyadarkanku dari lamunan panjang. “Pak, paak, paaa….k!” katanya lagi sambil mengguncang-guncang bahuku. “Eh, kamu Ain, Aulia, Dimas, Shasha, Ranti, Zidni dan kamu Zaki, tidak olah raga?”.
“Bapaaaak, memangnya sekarang sudah jam berapa?” Kata ranti.
“Bapak lupa, jam berapa, yah?”
“Olahraganya sudah selesai, mana makanan dan minuman tambahannya?” kata Dimas.
“Nah, bapak lagi nangis yah?” tambahnya.
“Sembarangan!” jawabku sambil mengalihkan perhatian mereka.
“Jujurlah pak, buktinya aku panggil bapak tidak menyahut,” timpal Ain.
“Iyaaa…” tambah Aulia.
“Kalau tidak kenapa ada air mata dipipi bapak?” sambung Zidni.
“Maanaa? Enggak ada?” sanggahku.
“Inii… nih, nih pak,” protes Shasha sambil meletakkan telunjukkanya dipipiku yang basah dan sembab oleh air mata.
“Oh iya ternyata ada air mata, sepertinya bapak menangis,” kataku menjelaskan.
“Bukan sepertinya pak, tapi bapak memang menangis,” kata Zidni, muridku yang spesial untuk urusan ralat-meralat kata-kata.
“Pak kenapa?” lanjut Ain.
“Tidak apa-apa?” jawabku.
“Tapi kenapa bapak Aneh?”
“Maksud Ain?” tanyaku.
“Bapak melihat tapi seperti orang yang tidak melihat, itukan aneh!”
“Kalau melihat seperti tidak melihat, itu namanya menerawang atau melamun, Ain.” kataku lagi.

Ah, benarkah sudah sejauh itu pikranku menerawang ke masa laluku. Sampai-sampai kehadiran mereka tak tercium olehku.

“Bapak ingat bunda, nak!”
“Bunda?” serentak mereka keheranan.
“Kenapa?”
“Meninggal yah?”
“Huss jangan gitu Dimas! Itu namanya mendoakan.”
“Iya nih.” timpal seluruh anak putri.
“Tidak, tidak meninggal, bapak ingat beliau. kadang bapak bangga dengan kebaikannya, kadang sedih dengan keburukannya?”
“Keburukan? Bapak nih aneh! Memangnya ada bunda yang buruk pak?” kata salah seorang mereka.
“Maksud bapak, bila sedang emosi karena ulah kenakalan kita, kadang bunda menunjukkan prilaku buruk. Itulah pentingnya menjaga agar bunda tidak gampang marah,
“Berarti bapak dulu nakal dong!” kata Dimas.
“Ya, bapak dulu nakal, dan nakalnya bapak satu, tidak banyak. Bapak sering nangis karena tak pernah diberi uang jajan, hingga bapak di SMA.”
“Hah, lama baget!” kata Zaki.
“Bundanya bapak pelit, yah?” tanya Shasha.
“Bukan pelit, tapi tidak punya uang, mengerti?” kataku sambil memperlihatkan ekspresi serius yang mirip ekspresi Emak.
“Tapi walaupun banyak hal buruk yang bapak alami, bapak tetap menyayanginya. Pun kalau itu buruk, sejak kecil bapak sudah bertekad kuat dan bulat untuk tidak akan pernah menirunya. Sebulat bolamu Zaki!” kataku sambil menunjuk kearah muridku yang tak pernah mau lepas dengan bola.
“Bapaaak.” Protesnya sambil meninju bahuku sebagai pertanda keakraban dan kemesraan hubungannya denganku.
“Keburukan itu harus bapak sulap. Sim salabim berubah menjadi kebaikan dan kebahagiaan yang harus selalu kalian rasakan, selama bersama dengan bapak.”
“Maksuuuud?” kata mereka serentak.

“Segala yang baik dari bunda, kita tiru dan lakukan, dan segala yang buruk niatkan dan tekadkan untuk tidak kita ulangi apalagi ditiru.”
“Kurang jelas paaaak?” protes mereka serentak.
“Hah… kamu lagi menyimak kata-kata bapak atau lagi tidur?”
“Bapaaaaaaaaak, yah menyimaklah!”
“Begini saja, kalian lebih dekat lagi ke bapak, ayo ke sini semuanya!” perintahku. “Duduk dekat bapak dan dengarkan dengan baik, setelah itu makanan dan minuman tambahan gizi kita selepas olah raga ini baru bapak bagikan, setujuuuuu?”

“Okeeee, pak!”
“Supaya lebih mudah, pak guru beri contoh. Siapa yang pernah digigit oleh ibunya?” Seluruh kepala mereka menoleh ke kanan dan ke kiri mencari-cari teman yang pernah digigit ibunya.
“Aku pak!” jawab salah seorang diantara mereka.
“Hah, benarkah?” sahut mereka.
“Yah aku pernah digigit.”
“Bagus, berarti kita punya contoh nyata. Sakit?”
“Iya, lah pak.”
“Tidak enak?”
“Iya lah pak?”
“Bagus! Kamu ingin digigit lagi?”
“Enggaklah, Pak?”
“Bagus!”

“Bapak nih bagus-bagus terus.” protes mereka.
“Eiit, diam dulu semuanya,” kataku menenangkan mereka.
“Kenapa tidak mau digigit lagi?”
“Ya karena digigit sakit dan tidak enak, memangnya aku daging ayam apa!”
“Nah pengalamanmu digigit bundamu harus dijadikan pelajaran untuk hidupmu nanti, kalau sudah besar, dimana saja, kapan saja, kepada siapa saja! Dan kalian harus bertekad, mulai hari ini dan seterusnya, untuk tidak menggigit orang lain. Termasuk kalau kalian sudah jadi ibu-ibu dan bapak-bapak, atau nenek-nenek dan kakek-kakek!”
“Ha ha ha ha,” serentak lepas tawa mereka.
“Itulah yang bapak maksud melalui pengalaman buruk kita bisa mendapatkan banyak kebaikan. Pun begitu dengan bapak, bapak bertekad dari sejak kecil, tidak mau membentak, mencubit, menggigit menjewer, menendang, mencela, memfitnah, menuduh, menyakiti perasaan dan segudang keburukan yang lain kepada kalian. Mau tahu kenapa?”
“Karena bapak telah mengalaminya dan rasanya tidak enak. Dan alasan yang lebih kuat karena bapak mencintai kalian semua, ai laf yu.”

“Iiiiiihh bapak, ai lof yu, jorok!” potong dimas.
“Iya nih bapak jorok!” kata beberapa diantara mereka.
“Tidak!” protesku.
“Ai laf you itu artinya bapak sangat sayaaaaaaang pada kalian.”
“Bahkan Rasulullah menganjurkan kita untuk mengatakan Uhibbika fillah, yang artinya hampir mirip dengan ai laf yu.”

“Apa artinya pak?”
“Aku menyayangimu, dan sayangku kepadamu karena Allah, hampir miripkan?”
“Nah ai laf yu akan jorok, kalau kalian ucapkan kepada yang tidak pantas kamu berikan. Misalnya Ain bilang ai laf yu ke Qori atau Zaki. Tapi pantas dan baik bila Ain bilangnya kepada Ranti atau Aulia, nah jelas semua penjelasan dari bapak?”
“Jelaas donk. Terima kasih bapak, ai lof yu juga.”
Duh gemesnya kataku dalam hati.

“Paak, paaak, paaaaak!” teriak Qori, Naufal dan beberapa anak dari kelas dua yang lain. Membuat kami terkejut dengan kegaduhan suara mereka. “Kacau pak, kacau!”
“Kacau, apa maksudmu?”
“Itu si Fajri buka celana sembarangan dan pipis di bawah pohon.” kata Qori.
“Iya pak, burungnya dipegang-pegang, air pipisnya dipancurkan ke anak putri kelas lain.” sambung Naufal menimpali.

Duh Fajri, anak ini memang satu lagi dari salah seribu muridku yang merupakan ujian bagi niat, azam dan tekadku yang bulat untuk tidak meniru cara-cara buruk yang tak sengaja yang Emak perlihatkan padaku. Alloh kuatkan tekadku untuk tidak menggunakan cara-cara buruk dalam mendidik murid-muridku, pintaku kepada Rabbku. anak yang satu ini memang luar biasa menguji kesabaranku. Mulai berkata-kata jorok, perhatiannya yang mudah beralih, tulisan cakar bebeknya dan segudang persoalan-persoalan lain yang dimilikinya.

“Fajri, Fajri jangan pancing kemarahanku untuk memperlakukanmu seperti cara-cara Emak memperlakukanku. Jangan batalkan tekad dan niatku untuk tidak mengulangi pengalaman burukku, dan membalaskannya ke kamu nak!” kataku lagi di dalam hati.

“Hukum saja pak!” usul Ranti.
“Iya pak suruh nulis saja sampai sore!” sahut Aulia.
“Dia sih memang dari kelas satu pak begitu.” timpal yang lain.
“Jangan begitu!” kataku sambil menenangkan mereka.

“Sebelum semuanya menjadi jelas, tidak akan ada hukuman dikelas ini. Masih ada cara lain untuk mengubah dia, dan kita gunakan cara yang lebih baik.” kataku kepada mereka. “Qori, Naufal dan kamu Wildan, panggil Fajri kemari!”

Begitu bersemangatnya mereka melaksanakan tugasku walaupun sempat kewalahan untuk menangkap dan membawanya ke kelas. Walaupun fisiknya kecil, taekwondonya sudah cukup untuk merepotkan teman-temannya. Dan hanya Qori saja, satu-satunya teman yang paling ditakutinya. Fajri datang merunduk dan ketakutan. Sambil dikerumuni teman-temannya, interogasi pun dimulai. Tapi melihat pucat diwajahnya sepucat wajahku ketika dimarahi Emak waktu itu, aku pun iba. Luluh dan meleleh semua kemarahan dan kekesalan serta kejengkelanku. Yang ada tinggal rasa kasihan dan semangat yang besar untuk membela dan melindunginya. Sebesar keinginan dan harapanku dikasihani Emak waktu itu.

“Supaya persoalannya menjadi jelas dan cepat selesai, yang lain tidak boleh ikut campur, mengerti kalian?”
“Iya pak,” sahut mereka.
“Kenapa kamu buka celana didepan umum Fajri?” kataku dengan sedikit ekspresi tegas dan serius.
“Aku kan mau pipis, kalau pipiskan kata pak guru harus buka celana, kalau tidak buka, nanti celanaya bau,” Mendengar penjelasannya aku jadi ingin tertawa lepas. Sekuat keinginanku untuk melepas beban pikiranku tentang beras jatah Emak yang belum kutemukan solusinya.

“Kalian dengar?” kataku.
“Fajri benar, karena semua anak yang pipis pasti buka celananya,”
“Tapi pak, kan buka celana dan pipisnya sembarangan!”
“Kamu dengar Fajri kata temanmu, pipis sembarangan adalah perbuatan yang salah. Kenapa buka celana dan pipis sembarangan?” lanjutku.
“Aku tidak sembarangan, pak guru.”
“Maksudmu?” kataku.
“Kamu tidak merasa salah?”
“Aku disuruh pak?”
“Disuruh? Disuruh siapa, hah?” bentakku.
“Sekarang panggil orang yang menyuruhmu segera yah?”
“Aku tak bisa!
“Kenapa tak bisa nak? Kamu berbohong, dengan mengatakan disuruh, padahal itu adalah kemauanmu sendiri iya kan, Mas?”
“Sungguh pak, aku disuruh!”
“Disuruh siapa, kakak kelas 3, 4, 5 atau kelas enam? Katakan siapa namanya?”

“Aku tak bisa pak,”
“Tidak bisa, apa tak ada, hah!”
“Tak bisa pak,”
“Bagaimana tak bisa, kan cuma menyebut nama yang menyuruhmu?”
“Iya, tapi aku tak bisa,”
“Bagaimana nih Fajri, sebut namanya saja tidak bisa!” timpal salah seorang muridku.
“Hei, bapak ingatkan lagi yah, tidak boleh ada yang ikut campur. Ini hanya urusan bapak dengan temanmu Fajri. Lanjut, sekarang kalau kamu tidak bisa menyebutkan namanya, tunjukkan saja orangnya!”
“Ayo kita ke sana!” sambil diikuti rombangan anak-anak dan aku. Fajri menunjukkan sesuatu yang dijadikan alasannya pipis sembarangn itu. Sampai disana semua yang hadir termasuk aku tertawa. Tapi aku tidak mau tertawa didepan anak itu. Sebab aku pernah merasakan betapa jengkelnya ditertawai. Sebagaimana tekadku sejak kecil aku tak ingin mengulangi pengalaman buruk yang pernah orang lain lakukan terhadapku.

“Hah, ini yang menyuruhmu?”
“Iya, dia yang menyuruhku, pak,”
“Nah, anak-anak dengar, untuk yang kesekian kalinya ini, temanmu Fajri melakukan pembelaan untuk dirinya. Ternyata benda ini yang menyuruhnya,” kataku sambil menunjuk benda yang diperlihatkan Fajri kepada kami semua.

Anak-anak yang hadir tertawa lepas dan bebas. Tertawa pada sebuah tulisan yang ditempel oleh Pak Bajuri, Penanggung Jawab cleaning service di sekolah. Bertuliskan TOILET PUTRA DISINI!

Tidak ada yang aneh dengan tulisan itu. Hanya lucu saja karena tulisan itu tanda panahnya salah bukan mengarah ke wc kelas dua putra tapi ke bawah pohon besar di samping kelas ibu Ariyana, teman sejawatku di kelas dua.

“Baiklah, bapak putuskan Fajri tidak bersalah!”
“Tidak bisa, Pak!” protes sebagian mereka, karena tidak puas dengan keputusanku.
“Loh, kenapa? Dia benar. Tanda ini memang menyuruh dia untuk pipis di bawah pohon ini, yang kalian katakan bahwa Fajri pipis sembarangan, begitukan?”

“Tapikan pak, mestinya kita mengerti, maksudnya adalah di WC dekat kelas 2D,” protes Ain.
“Itukan kamu, Ain. Kamu bukan Fajri dan Fajripun bukan kamu. Tidak semua orang seperti kamu yang cepat mengerti maksud orang lain. Kita semuakan sedang belajar, untuk mengerti banyak hal termasuk keanehan ini. Pun begitu dengan temanmu Fajri,”

“Tidak bisa pak, dia tetap salah!” protes yang lain.
“Salah?” Apa salahnya?”
“Ada pak!”
“Apa? Tunjukkan ke bapak!”
“Aku pak bisa!” sergah Ranti.
“Yah apa?”

“Tadikan ada yang bilang ke bapak dia mainkan burungnya dan air pipisnya dimainkan kemana-mana, sampai ada yang hampir kena. Ih, menjijikkan,”
“Baik untuk yang satu ini Fajri bersalah dan berhak diingatkan, mengerti kamu Fajri?”

“Waktu aku buka celana dan pipis, teman-teman mengejek dan menggangguku, aku kesal dan air pipisnya aku kasih ke teman yang menggangguku.” protes Fajri membela dirinya.

“Aduh bapak jadi pusing dengan kasus ini!”
“Bagaimana kalau kesalahan ini kita arahkan kepada orang yang menempel tulisan ini, setuju?”
“Setujuuuuuu!” jawab mereka.
“Aku tidak pak!”
“Kenapa Ain?”
“Fajri harus diberi pelajaran juga supaya dia mengerti!”
“Iya.., tapi menurut bapak, pengalamannya hari ini sudah banyak memberikan pelajaran bagi kita semua, terutama bagi pelakunya, yah temanmu Fajri, iya kan, Jri?”
“Iya pak, aku tak akan mengulanginya,”
“Nah sudah selesai semuanya, mari kembali ke kelas!”

“Belum pak, bagaimana dengan pak Bajurinya?”
“Oh iya, bapak lupa ayo kita kesana!”

Sambil berjalan menemui pak Bajuri yang kebetulan ada di ruang satpam, kamipun mempersoalkan kasus aneh dan pertama ini dalam karir keguruanku kepadanya hingga selesai. Anak anak pun puas dan satu persatu pergi meninggalkan ruang satpam. Pak Bajuri, pak Yusuf dan pak Firdaus yang ikut menyaksikan tersenyum dengan ulah tingkah, keluguan dan kelucuan mereka. Terlebih lagi aku, ditengah persoalan beras jatah bulanan Emak yang belum mampu kucarikan jalan keluarnya, akupun masih dapat tersenyum dengan lebar.

Senyum kemenangan karena aku berhasil menahan emosi dan marahku dan bisa berbuat adil, dengan tidak segera dan tergesa-gesa menghukum keluguan si Fajri. Senyum kepuasan, karena hari ini aku telah berhasil mengajarkan kehidupan nyata kepada mereka. Senyum kebanggaan, bangga dengan mereka yang memiliki warna-warni dan keunikan. Senyum kerinduan untuk selalu bersama mereka, berbagi rasa, suka dan duka dengan mereka dalam biduk kelas dua. Senyum keceriaan, seceriah kusambut pembelajaran hari itu setelah lama pikiranku menerawang.

Sambil melangkah menuju kelas dua untuk membagikan tambahan gizi selepas pelajaran olahraga untuk mereka, kukenang lagi wajah bulat Emakku. Yah sebulat tekadku untuk mengubah berbagai pengalaman buruk hidupku menjadi sebuah inspirasi produktif yang melahirkan ide-ide besar dan kekuatan dasyatku untuk mendidik semua murid-muridku. Kuingat lagi wajah Emak. Dan kuingat lagi kesulitan hidupnya, sambil kuuntai doa untuknya.

Ya… Allah beri aku uang hari ini, agar jatah beras bulanan Emakku tak lagi terlewatkan. Ya… Allah beri aku kesabaran dan kekuatan bila badai institusi ini menghempas jauh dahaga kerinduanku untuk tetap mengajar, bertemu dan berbagi suka dan dukaku bersama murid muridku. Terima kasih Allah, melalui hamba-hamba kecilmu, kuraup berjuta mutiara hikmah yang dapat memberi makna kehidupan.

Kamis, 25 Oktober 2007 yang sedang dirundung rindu untuk mengajar di kelas 2, Achmad Fauzi Bin Muhammad Ilyas.

Leave a Reply