SDSIT NURUL FIKRI

SDIT Nurul Fikri Lahirkan Generasi Muslim Berkarakter

By November 6, 2018 No Comments

Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nurul Fikri Depok lahir dari sebuah bimbingan dan konsultasi belajar pada 1985. Melihat animo dan minat para orang tua terhadap adanya bimbel ini, sang pendiri pun membuka sekolah dasar (SD) ini pada 1993.

SDIT Nurul Fikri Depok dibangun dengan tujuan ingin melahirkan generasi yang berkarakter dan taat pada agama. Setiap hari, siswa dari kelas 1-6 disiapkan waktu selama 1.5 jam untuk membaca ayat suci ALquran didampingi oleh wali kelasnya.

“Dari 2013 kita menjadi sekolah piloting atau percontohan untuk Kurikulum 2013 atau K-13. Awalnya hanya kelas 1 dan 4, pada 2014 tambah kelas 2 dan 5. Baru tahun 2016 semuanya pakai K-13 ini,” ujar Kepala SDIT Nurul Fikri Depok, Fathonah Januwiyati, Selasa (30/10).

Ia menyebut, Kurikulum 2013 ini sangat coock dengan sekolahnya yang juga mengutamakan pendidikan karakter selain nilai akademis. Sejak dibangun pada 1993, pendidikan berkarakter sudah berjalan. Namun, karena tidka memiliki dasar kurikulum, pendidikan ini tidak bisa dimasukkan sebagai nilai rapor. Beberapa yang dipelajari oleh siswa diantaranya, seperti keagamaan, sikap moral, kognitif, dan keterampilan siswa.

Setelah SDIT Nurul Fikri mulai berkembang, pihak yayasan mendirikan SMPIT Nurul Fikri yang terletak satu kawasan dengan SDIT Nurul Fikri pada 1996. Tiga tahun kemudian, muncul SMAIT Nurul Fikri dan Nurul Fikri Boarding School di ANyer, Banten. Pada 2016 hadir SDIT Nurul Fikri di Aceh. Setahun setelah itu, hadir Nurul Fikri Boarding School Bogor. Meski telah banyak cabang dan perluasan, SDIT Nurul Fikri Depok menjadi kantor utama dan supervisi dari sekolah-sekolah yang ada.

Sekolah ini pun sudah melahirkan banyak pelajar yang berprestasi tidak hanya nasional, tapi juga internasional. Untuk sekolahnya sendiri pada 2016 menjadi juara 1 kompenen pembelajaran tingkat nasional dan 2017 juara 2 PPK tingkat nasional.

Mulai 2016, SDIT Nurul Fikri Depok membuat sistem untuk kurikulum dan program-programnya yang disebut dengan Nurul Fikri Education System (NFES). Ptokan utama yang dijadikan acuan dalam mendidik anak-anak adalah ‘SMART’, Soleh, Muslih, Cerdas, Mandiri, dan Terampil.

SDIT Nurul Fikri memiliki beberapa program unggulan. Pertama, ada Refresh Attitude atau panduan sikap siswa. Ada empat sikap yang diutamakan, yaitu respect atau menghargai, friendly bersahabat, responsibility bertanggung jawab, dan honesty atau jujur. “Empat hal ini lanjutan dari SMART. Kita sadar bahwa penanaman sikap ini memang tidak langsung jadi, tapi kita coba anak-anak untuk membiasakan diri,” kata Kepsek SDIT Nurul Fikri.

Untuk masalah Alquran, SDIT Nurul Fikri akan membaut sebuah pusat kajian atau disebut Nurul Fikri Quran Center (NFQC). Di NFQC, siswa-siswi bisa semakin memahami, mempelancar, bahkan membantu menghafl Alquran selain yang sudah dilakukan di kelas masing-masing.

SDIT Nurul Fikri pun memiliki target bagi murid-muridnya. Tiap yang lulus dari sekolah ini paling tidak harus bisa hafal tiga juz terakhir Alquran, yaitu 28, 29, dan 30. Bagi pelajar yang sudah hafal akan ada wisdua Alquran. Nurul Fikri bahkan membuat Juz Amma sendiri bagi civitas akademikanya, yang diberi nama Nurul Bayyan. Nurul Bayyan ini terdiri dari empat jilid yang dibuat oleh guru dan pengurusnya berdasarkan panduan Juz Amma yang ada. Kitab ini diperuntukkan siswa kelas 1, 2, dan 3 sebelum mereka membaca Alquran. “Harapannya dengan ini Alquran benar-benar bisa menjadi pedoman hidup dalam keseharian siswa-siswi,” ujar Fathonah.

Program lain yang juga menjadi fokus bagi murid-murid Nurul Fikri adalah membangun kesukaan dan kebiasaan membaca. Bahkan, untuk hal ini, Nurul Fikri membuat dua program, Nurul Fikri Reading System (NFRS) dan One Month One Book (OMOB). NFRS dibuat dengan sistem komputerisasi di mana tiap siswa memiliki akun tersendiri dan diwajibkan membaca suatu buku yang dibagi menjadi berbagai level, dari level 1 hingga 12. Poin-poin yang didapat oleh siswa dalam menjalankan program NFRS kedepannya akan dijadikan tambahan penilaian mata pelajaran bahasa Indonesia, khususnya untuk pemahaman.

Untuk program OMOB, tiap siswa di kelas disiapkan waktu untuk membaca selama 15 menit. Waktu membaca ini dijadwalkan pada Rabu dan Kamis dengan pengawasan guru. Pada akhir waktu, para siswa akan menyerahkan hasil bacaan, seperti buku apa yang dibaca dan sudah sampai halaman berapa.

“Bukunya bebas. Boleh yang disiapkan sekolah atau mereka bawa sendiri dari rumah. Kalau yang disiapkan di kelas, kita taruh di kereta buku dengan jumlah disesuaikan dengan sisawa yang ada. Buku-buku ini pun akan ditukar setiap bulannya dengan kelas lain agar mereka tidak bosan,” kata Kepala SDIT Nurul Fikri.

Jumat di SDIT Nurul Fikri adalah hari khusus agama. DI mana ada zikir bersama yang dilakukan sebelum kelas dimulai. Penguatan pendidikan karakter agama dipusatkan pada hari ini.

Setiap angkatan memiliki empat kelas dengan jumlah siswa 36 orang. Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dari Senin sampai Jumat, semnetara Sabtu merupakan hari klub di mana berisi kegiatan siswa, tapi yang berbayar. Seperti panahan, robotik, sinematografi, dan futsal. Untuk kegiatan ekstrakurikuler yang disiapkan sekolah adalah paduan suara, tari, olimpiade sains, karate, taekwondo, futsal, dan renang. Kegiatan ekstrakurikuler berlangsung Senin sampai Jumat setelah bubaran kelas.

Sumber: Surat Kabar Harian Republika – 02/11/2018

Leave a Reply