SIT NURUL FIKRI

Pendidikan Karakter, Bekal Pendidikan Anak di Masa Depan

By October 5, 2017 No Comments
muslih

Jika kita ingat lagi dengan semboyan “ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” yang berarti “di depan seorang pendidik mesti memberi teladan, di tengah-tengah siswa membangun semangat serta menciptakan peluang untuk berswakarsa, dari belakang yang tua mendorong dan arahan.”

Semboyan itulah yang mungkin mencetuskan istilah pendidikan karakter di sekolah-sekolah, dengan harapan mampu membangun generasi yang mempunyai karakter dan budi pekerti baik.

Tentunya, dalam penumbuhan atau Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) ini diperlukan guru yang sangat berpengaruh untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang sukses, yaitu menciptakan pribadi berkualitas dan memiliki karakter yang baik sehingga siswa mempunyai tujuan untuk menggapai cita-citanya.

Seperti yang diungkapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy, bahwa program Penguatan Pendidikan Karakter diharapkan menjadi ruh dari pendidikan nasional. Nilai utama karakter PPK tidak hanya menyasar para siswa, tetapi juga pada pendidik dan orang tua sebagai pendidik utama dan pertama.

Kreatifitas pada guru secara langsung juga akan memotivasi siswa dalam belajar, tak hanya mengandalkan sebuah buku lalu menerangkan di dalam kelas kepada para siswa, tanpa adanya praktik di luar sekolah.

Contoh, mengenalkan nilai nasionalisme juga bisa dilakukan dengan cara membawa siswa ke museum dan memperkenalkan benda-benda sejarah atau budayanya secara langsung.

Atau bisa saja menggunakan cara lain, seperti: bercocok tanam (belajar tentang tanaman), study tour, berjualan (sebagai pelajaran kewirausahaan), menjelajah hutan (belajar mengenal alam terbuka beserta isinya), dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan di luar kelas.

Dikarenakan kurikulum 2013 menggunakan prosedur tematik, jadi para guru bisa berkreatifitas menciptakan suasana mengajar yang baik dan siswa tidak mudah bosan dalam menerima pelajaran.

“Jangan remehkan kreativitas guru. Jangan pesimis. Kita harus optimis,” tegas Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Sumarna Surapranata.

Sumber: www.parenting.co.id

Leave a Reply