Parenting

Pemuda Shaleh: Begini Cara Rasulullah SAW Mendidiknya

By October 22, 2018 No Comments

Pemuda / Syabab adalah fase kehidupan seseorang setelah melalui masa kanak-kanak.Dalam Islam tidak ada fase remaja. Jadi setelah seseorang terlepas dari masa kanak-kanak maka ia masuk ke dalam fase pemuda.

Pemuda memiliki potensi yang luar biasa terutama dalam hal pola pikir. Menghadapi pemuda jangan disamakan dengan cara kita menghadapi anak-anak. Menurut Ust. Bendri Djayusman pemuda memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

Ciri-ciri pemuda

Berpikir kreatif

Menghadapi pemuda janganlah banyak intruksi atau perintah terlebih doktrin. Ajaklah berdiskusi sebagaimana Nabi Ibrahim berdiskusi dengan Ismail anaknya saat turun perintah untuk berqurban. Ajaklah pemuda untuk membahas suatu permasalahan. Gunakan sistem tanya jawab agar tidak terkesan menggurui. Mengapa berdiskusi dengan pemuda harus menggunakan system Tanya jawab ?

Karena dalam Tanya jawab akan terjadi :

Interaksi esensial antara seorang anak didik dengan pendidiknya.
Pikiran anak didik akan terfokus dan terpusat pada pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan.
Jawaban yang menggunakan kalimat negatif merupakan metode pendidikan yang ilmiah dan realistis serta menjadi hujjah atas pelanggaran terhadap perbuatan tertentu, baik secara kemasyarakatan maupun kemanusiaan.

Punya semangat yang meletup-letup/ potensial (tidak bisa menunggu)

Pemuda biasanya punya semangat membara dan berapi-api. Mereka ingin segalanya serba cepat dan tidak sabar untuk menunda. Jangan lecehkan setiap pertanyaan atas statement yang mereka sampaikan. Jawab dan beri penjelasan dengan rasa hormat dan penuh kasih sayang.

Hormon seksualitas aktif.

Karena hormon seksualitasnya sudah aktif maka jangan biarkan mereka banyak menganggur atau bersantai-santai. Akhirnya akan membuat mereka memanjakan imajinasinya sehingga mudah disusupi syetan.

Beri kesibukan yang berarti seperti mengikuti berbagai kegiatan organisasi sosial atau kepemudaan. Arahkan mereka pada kegiatan positif. Paling tidak dengan membaca buku – buku shirah atau buku-buku motivasi yang sesuai dengan semangat mereka yang mudah berkobar.

7 Cara Menghadapi Pemuda ada istiqomah dalam Kesholehan

1. Setia dan cinta pada Allah

Kesetiaan bagi kaum muslimin tegak di atas rasa cinta karena Allah, sedangkan kecintaan kepada Allah bertujuan untuk mendapatkan kebahagiaan kampung akhirat dengan segala yang ada di sisi Allah. Dengan kata lain, ia ditujukan untuk meraih hal-hal yang bersifat lebih kekal dan lebih baik.

2. Menepati janji

Menepati janji adalah wajib hukumnya. Bukan hanya pada sesame muslim bahkan pada orang kafir pun kita wajib menepati janji. Bukan hanya pada orang dewasa bahkan kepada anak-anak pun kita wajib menepati janji. baik terhadap sesama muslim maupun antara muslim dan non-muslim. Seperti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

“Dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang Rasul dan nabi.” (QS. Maryam: 54)

3. Ma’iyatullah

secara umum yaitu kebersamaan Allah terhadap seluruh makhluk dengan ilmu, penglihatan, pendengaran dan pengawasan-Nya. Semua ini berlaku umum baik yang beriman maupun yamg kafir sekalipun.

Allah SWT berfirman:

“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak tersembunyi dari Allah, padahal Allah bersama mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhoi. Dan Allah itu Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan”.

4. Istiqomah

Istiqomah adalah menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqomah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan (kepada Allah) lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya.

An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah bahwa amalan yang sedikit namun konsekuen dilakukan, itu lebih baik dari amalan yang banyak namun cuma sesekali saja dilakukan. Ingatlah bahwa amalan sedikit yang rutin dilakukan akan melanggengkan amalan ketaatan, dzikir, pendekatan diri pada Allah, niat dan keikhlasan dalam beramal, juga akan membuat amalan tersebut diterima oleh Sang Kholiq Subhanahu wa Ta’ala . Amalan sedikit namun konsekuen dilakukan akan memberikan ganjaran yang besar dan berlipat dibandingkan dengan amalan yang sedikit namun sesekali saja dilakukan.

Seorang sahabat bertanya: “Ya Rasul tolong ajarkan sesuatu kepadaku yang paling penting dalam Islam, dan saya tidak akan bertanya lagi, kepada siapapun. Nabi menjawab ” Katakanlah aku telah beriman kepada Allah, kemudian istiqomah (Konsisten menjalankan perintah,dan menjauhi larangan.).(HR.Tirmidzi).

5. Menanamkan rasa malu

Bersabda Rasulullah SAW :

“Malu tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan” (HR. Bukhari dan Muslim)

Malu merupakan akhlak terpuji, sedangkan minder merupakan akhlak tercela. Didiklah anak untuk memiliki sifat malu sedari kecil. Malu mempertontonkan alat kelaminnya dan sebagian auratnya yang lain dan malu pula melihat aurat orang lain. malu jika berbuat salah dan dosa, malu karena tidak beribadah dengan baik. Malu jika mendzolimi orang lain. Dan malu jika melakukan perbuatan maksiat.

Musuh-musuh islam sangat berupaya merusak para pemuda dengan merusak rasa malunya. Sehingga para pemuda tidak malu lagi mempertontonkan auratnya atau melihat aurat orang lain. Tidak malu berbuat maksiat, tidak malu melakukan dosa dan perbuatan tercela lainnya.

6. Muraqabah

Artinya merasa selalu diawasi Allah SWT sehingga dengan kesadaran ini mendorong manusia senantiasa rajin melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Allah SWT berfirman : Dia selalu bersama kalian dimanapun kalian berada (QS al – Hadid 4). Sesungguhnya tidak ada sesuatupun yang bersembunyi di mata Allah, baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi (QS Ali Imran : 6)

7. Doa

Doa yang ikhlas dari kedua orang tua terutama ibu kepada anak-anaknya adalah doa yang mustajab. Sejak dalam kandungan hendaknya orang tua sudah mulai mendoakan untuk kebaikan anaknya dunia dan akhirat. Seperti yang dicontohkan para nabi yang selalu tak bosan mendoakan anak-anak mereka agar selamat dunia dan akhirat. Untuk orang tua terutama ibu berhati-hatilah dalam berbicara terutama saat sedang merasa jengkel dan marah pada anak. Karena ucapan iobu terhadap anaknya adalah doa mustajab.

Allah SWT berfirman :

“Ibadah yang paling utama adalah do’a”(shahih Jami’ ash-shaghir no 1108). Doa juga dapat menghubungkan hati pendidik dan anak didik kepada sang Khaliq sesuai dengan firman-Nya: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan doamu” (QS. Ghafir: 6)

Penulis: Nurul Fithrati
Editor: Rizka S. Aji
Foto: Voa-islam.com
Sumber: Min Asalibir Rasul Fit Tarbiyah oleh Najib Khalid Al-‘Amr, terjemah: Tarbiyah Rasulullah, Gema Insani Press; Remaja, Antara Hijaz Dan Amerika oleh Budi Ashari Lc.
Sumber : https://abiummi.com/pemuda-shaleh-cara-rasulullah/

Leave a Reply