Parenting

Pahami Anak: Jangan Menyebut ‘Nakal’

By October 30, 2018 No Comments

Ketika anak menunjukkan tingkah laku yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita, seringkali kita melihat orang tua memberikan label negatif pada anak dengan menyebut mereka ‘nakal’ atau bahkan ‘bodoh’. Ternyata, kebiasaan tersebut dapat memberikan efek yang negatif pada anak, terutama apabila diulang-ulang. Memberikan label negatif pada anak-anak hanya akan menurunkan kepercayaan diri mereka dan membuat mereka meyakini label tersebut ada pada dirinya. Hal ini tidak membuat anak bertingkah laku seperti yang kita harapkan, tapi justru sebaliknya.

Tingkah laku yang kita anggap nakal itu, bisa jadi merupakan ekspresi anak akan kebutuhan-kebutuhannya yang belum terpenuhi. Dengan mencari tahu alasan mengapa anak bertingkah laku seperti itu, orang tua dapat lebih memahami ketika anak bertingkah laku tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

Berikut adalah sepuluh alasan yang membuat anak-anak bertingkah laku tidak sesuai dengan seperti yang kita harapkan:

1. Self-control yang Masih Berkembang
Bagian otak manusia yang mengatur tentang self-control atau bagaimana seseorang mengontrol diri mereka, belum berkembang secara utuh pada anak-anak (Tarullo, Obradovic, & Gunna dalam Leyba, 2017). Hal ini lah yang menyebabkan anak-anak sering kali melakukan sesuatu yang kita larang. Karena mereka sendiri belum mampu mengontrol tingkah laku mereka sendiri. Dengan mengingat hal ini, kita dapat lebih mengontrol reaksi kita terhadap tingkah laku yang tidak diharapkan tersebut.

2. Over-Stimulasi
Tingkah laku anak-anak yang sering kali kita anggap nakal bisa jadi muncul akibat terlalu banyaknya stimulasi yang kita berikan kepada mereka. Misalnya, terlalu banyak aktivitas, mainan, dan pilihan-pilihan lain dapat meningkatkan stress pada anak. Yang dapat dilakukan orang tua untuk menenangkan anak, bisa jadi adalah dengan memberikan waktu untuk bermain bebas atau waktu istirahat kepada anak.

3. Kebutuhan Utama yang Tidak Terpenuhi
Salah satu hal yang kerap kali memicu munculnya perilaku yang tidak semestinya pada anak adalah adanya kebutuhan anak yang tidak terpenuhi. Misalnya, anak akan mudah rewel ketika ia merasa lapar, lelah, atau mengantuk. Kemampuan komunikasi anak yang masih terbatas, membuat anak kurang dapat menyampaikan kebutuhannya tersebut. Jadi, anak Anda tidak nakal, bisa jadi hanya karena ia sedang ingin makan.

4. Mengekspresikan Perasaanya
Sebagai orang dewasa, kita sering kali dituntut untuk menahan emosi yang sedang kita rasakan kepada orang lain. Misal, ketika kita marah, kita dapat menahan diri untuk tidak berteriak atau memukul. Pada anak-anak, kemampuan tersebut sering kali belum sepenuhnya berkembang. Kita tidak dapat meminta anak untuk menahan emosinya. Anak butuh mengekspresikan emosinya, melalui menangis atau berteriak. Ketika anak sedang mengekspresikan emosinya tersebut, sebaiknya orang tua tidak bereaksi dengan cara berteriak atau memarahinya.

5. Kebutuhan untuk Bergerak
Kita sering mendengar orang tua berteriak pada anaknya yang sedang bergerak ke sana kemari, untuk duduk diam atau meminta anak untuk berhenti melompat-lompat. Padahal ada anak yang memiliki kebutuhan yang besar untuk bergerak. Daripada sibuk menyalahkan anak karena tingkah lakunya yang enegik, ada baiknya orang tua mulai meluangkan waktu untuk mengajak anak-anak ke playground.

6. Keinginan untuk Mengerjakan Sesuatu Sendiri
Anak-anak seringkali memiliki keinginan untuk mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Meskipun sebenarnya, mereka belum terlalu bisa melakukannya sendiri. Misalnya, ada orang tua yang marah ketika melihat anaknya menumpahkan air atau memecahkan gelas dan mengatakan anak itu nakal karena dianggap melakukan sesuatu yang tidak baik. Padahal, alasan sebenarnya adalah anak memiliki dorongan untuk melakukan sesuatu sendiri, yaitu ingin mengambil minum sendiri walaupun koordinasi tangan dan mata yang belum sempurna membuat ia tidak bisa benar-benar mengerjakan hal itu sendiri. Yang anak butuhkan sebenarnya bukan omelan dari orang tua, tapi justru dukungan dan apresiasi atas kemauan untuk menjadi mandiri tersebut. Jangan sampai, karena perlakuan kita tersebut, anak menjadi malas atau tidak berani mencoba hal-hal baru.

7. Sifat Bawaan Anak
Setiap anak memiliki sifat bawaan masing-masing atau biasa disebut dengan temperamen. Sifat bawaan tersebut sering kali mempengaruhi bagaimana anak bereaksi terhadap suatu stimulus di lingkungannya. Misalnya, ada anak yang bisa dengan mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, ada juga anak yang butuh waktu lebih lama ketika berada di lingkungan baru yang menyebabkan anak bertingkah laku rewel atau tantrum yang sering kali didefinisikan orang dengan ‘nakal’. Padahal, apabila kita memahami temperamen pada anak tersebut, orang tua dapat melakukan strategi untuk membantu anak lebih siap menghadapi lingkungan barunya.

8. Keinginan untuk bermain
Kita pasti pernah mengalami situasi ini. Ketika anak kita mencolek es krim dan menempelkannya ke pipi kita. Ketika anak malah berlari-larian ketika kita hendak mengajaknya menggosok gigi, dan tingkah laku lainnya yang terkadang membuat jengkel. Padahal tanpa kita sadari, maksud anak melakukan hal tersebut adalah karena adanya keinginan untuk bermain. Yang diperlukan orang tua mungkin hanyalah lebih sering mengajak anak bermain atau memintanya melakukan sesuatu dengan lebih menyenangkan.

9. Reaksi terhadap Mood Orang Tua
Penelitian menunjukkan bahwa emosi yang dirasakan seseorang itu dapat menular ke orang lain dan terkadang hal ini tidak disadari oleh seseorang (Goleman, 1991, Hatfield et al., 2014). Tingkah laku anak-anak juga dapat dipengaruhi oleh mood yang ditunjukkan oleh orang tuanya. Bisa jadi secara tidak sadar kita menunjukkan emosi negatif kepada anak sehingga membuatnya merasakan emosi serupa dan menunjukkan perilaku yang sering kali tidak sesuai.

10. Reaksi terhadap Aturan yang tidak Konsisten
Anak-anak bertingkah laku tidak sesuai harapan bisa juga dipicu oleh adanya aturan yang tidak konsisten. Misal, hari ini kita memberikannya cokelat, namun ketika ia hendak memakannya kita malah melarangnya karena suatu alasan. Contoh lainnya adalah ketika biasanya kita membacakan dua buku untuk anak-anak sebelum tidur, tapi suatu hari kita hanya bisa membacakan satu buku, lalu anak tiba-tiba menjadi rewel dan sulit dikendalikan. Aturan yang tidak konsisten tersebut dapat membuat anak merasa frustrasi. Seperti orang dewasa, anak-anak juga perlu menjaga ekspektasi tentang apa yang akan terjadi. Membuat rutinitas dan kesepakatan dengan anak akan sangat membantu mereka untuk menerima perubahan keadaan atau aturan.

Sumber:
Coleman, D. 1991. Happy or Sad, a Mood Can Prove Contagious. New York Times. https://www.nytimes.com/1991/10/15/science/happy-or-sad-a-mood-can-prove-contagious.html?pagewanted=all

Leyba, E. 2017. Not Naughty: 10 Ways Kids Appear to Be Acting Bad But Aren’t. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/joyful-parenting/201705/not-naughty-10-ways-kids-appear-be-acting-bad-arent

Hatfield, E. et al. 2014. New Perspectives on Emotional Contagion: A Review of Classic and Recent Research on Facial Mimicry and Contagion. Interpersona.
https://interpersona.psychopen.eu/article/view/162/html

Oleh: Dewi Wening Sawitri

Leave a Reply