| Sepotong Kenangan Tentang Mariyah al qibtiyyah |
| Written by Editor |
| Wednesday, 17 February 2010 14:34 |
|
Kutatap kembali pesan singkat itu yang dikirimkan oleh seorang ibu yang senantiasa menganggap setiap anak murid kami bak anak kandungnya. Persis sampai di tanganku, jum’at 12 Februari 2010, saat waktu menunjukkan jam 12:54:52. Kubaca lagi dengan perasaan hampir tak percaya: “innalillahi wa innailaihi roji’un telah berpulang ke rahmatullah Mariyah al qibtihiyyah binti jalaluddin pane pada hari jum’at di rs medistra jam 12.30. Mohon maaf segala kesalahan dan semoga allah menerima amal ibadahnya dan diterima disisinya. Amin “ “Anakku”…, kepergianmu dihari nan dimuliakan itu seakan sebuah isyarat yang mengabarkan kepada kami bahwa engkau memang selalu gembira -seperti ummat dihari mulia itu- karena hari-harimu adalah waktu penantian pada “yang kau rindu”. “Man kaana yarjuu liqoo’allahi fa’inna ajalallahi la’aat. Wahuwassamii’ul ‘aliim”. ”Barangsiapa mengharapkan/merindukan perjumpaan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) itu pasti tiba/datang. Dan dia maha mendengar lagi maha mengetahui” (29:5). “Anakku….”, rasanya baru beberapa hari yang lalu kita bercakap-cakap tentang mimpi-mimpi yang kau punya. Betapa inginnya engkau menjadi siswa yang bisa mengharumkan nama sekolah kita seperti halnya “kakak-kakak” mu. Karenanya kau ingin meraih prestasi setinggi mungkin. Kau ingin bisa lulus ke perguruan tinggi negeri melalui PMDK. Kau bisikkan 1 mimpi lain dengan mata berbinar: “aku ingin jadi dokter bu... Aku ingin menyembuhkan pasien yang memiliki penyakit sepertiku… bisa kan bu…?” “Anakku…”, kami yang mengenalmu, semua insya Allah menjadi saksi, betapa engkau adalah pencinta ilmu dan kebaikan. Rasanya seolah tak ada hari diantara hari-harimu yang tak terisi dengan keinginan baik dan kearifan. Dan tak ada ruang di benakmu kecuali kau selalu merindukan ada ilmu yang kau pelajari atau kau terima dari guru-gurumu, meski disaat ragamu sesungguhnya bisa kau jadikan alasan untuk berharap iba dari orang-orang yang menyayangimu, hingga kau tak perlu lagi merasakan beratnya beban dan “ujian”. Selamat jalan “anakku…”, janjimu pada sang khaliq insya Allah telah kau tunaikan. Kau telah persiapkan saat-saat kepulanganmu dengan persiapan yang begitu indah. Kau adalah ibarat cermin bagi kami. Engkau layak menuai apa yang kau semai. Sesungguhnya kita semua adalah milik Allah dan kita semua pasti akan kembali kepadanya. Allahumaghfirlaha, warhamha, wa’afiha,wa’fuanha. Allahumma laa tahrimnaa ajrohaa, wala taftinna ba’dahaa… amin… |

Comments
RSS feed for comments to this post.