Kolom lainnya
- Tidak Ada yang Tidak Bisa, Jika Allah Memutuskan Bisa
- Mengemis Kasih Ilahi di Tanah Suci
- Bukan Ramadhan Biasa
- Perjalanan Umrohku
- Dibutuhkan Tenaga profesional
- Kekuatan Cinta Sang Guru
- Seandainya Rasulullah dalam kelas ...
- Ada Apa dengan Sekolah Unggulan?
- 7 Konten Esensial Pendidikan Terpadu?
- Belajar Efektif Lewat Telinga
| Guru Menulis? Bukan Guru Biasa? |
| Written by Dyah Yuliastuti, Guru SMAIT NF |
| Monday, 15 February 2010 16:57 |
|
Seperti halnya profesi lainnya yang surut penghasilan, menjadi guru mungkin tidaklah terbayangkan dan menjadi impian sebagian besar lulusan sarjana di era tahun 90-an.
Salah satu penyebabnya sangatlah klasik, berapa sih gaji seorang guru yang sempat nyaring disyairkan Bang Iwan Fals lewat lagunya, “Umar Bakri”? Namun itu dulu, kini, berapa banyak sarjana dengan gelar nonkependidikan dan pengalaman mengajar yang minim, nyebrang dan berbondong-bondong rela antri jadi guru? Tidaklah mengherankan bila faktor terbesar adalah berubahnya tingkat kesejahteraan dan tunjangan seorang guru yang terlihat dari anggaran pendidikan yang meningkat menjadi 20%. Pendek kata, menjadi seorang guru kini adalah profesi yang menggiurkan dan dapat dijadikan jaminan masa depan. Sebenarnya bisa saja seorang guru tidak melulu mengandalkan penghasilan dari profesinya saja. Salah satunya dengan menulis yang kini mulai menggeliat dan bermunculan bak jamur di musim hujan. Pasalnya, bidang pekerjaan guru selalu menarik untuk disarikan dalam rangkaian kata-kata. Mengapa? Betapa tidak, setiap harinya, seorang guru selalu mendapati begitu banyak pengalaman berbeda yang bila tertuang dalam karya tulisan sangatlah beragam, dinamis, dan variatif. Mulai dari prosesi awal penyiapan bahan ajar hingga penulisan diari pengalaman mengajar, akan dihasilkan interaksi dengan murid yang berbeda-beda. Kalau pun muridnya sama, topiknya pastilah berbeda setiap harinya. Dinamika sesama rekan guru juga menarik yang terekam antara lain melalui suasana pembelajaran baik di dalam maupun luar kelas, kisah inspirasi curahan hati dari guru lain, belum lagi bila sang guru ditugaskan mengikuti pelatihan, seminar atau apalah namanya. Belum lagi sepak terjang dan suka duka selama puluhan tahun bergelut menjadi guru. Wuih!, pastilah sangat kaya ide dan gagasan untuk dituliskan. Masalahnya, setiap kali dihadapkan pada suatu tuntutan, kita semua seolah tertegun, kaku, gagu, lidah kelu, otak buntu, dan tak tahu harus menulis apa. Stagnan, macet total! Kendala lainnya, cukup klise, mulai dari alasan kesibukan, tidak terbiasa menulis, kurang percaya diri, malas menulis, kurang berminat menulis, kemampuan kurang mumpuni untuk menulis, hingga tidak punya ide. Kalaupun ada ide, ia tidak mampu mengembangkan menjadi suatu tulisan. Itulah problema guru biasa-biasa saja di zaman sekarang ini. Jadi, ingat bagaimana sulit dan berkeringat dingin saat menulis karya ilmiah pertama yang namanya skripsi. Bikin puyeng, sakit perut dan gatal-gatal! Saat bab 1 terlewati, akhirnya bab 2 dan seterusnya menjadi lancar bak jalan tol bebas hambatan. Ternyata kuncinya kita harus membuka mental blok yang menguasai pikiran negatif kita. Tulis saja semua dan apa yang terlintas di kepala. Toh nanti bisa diedit kembali bila tidak sesuai dan dikemas dengan cantik sehingga menjadi lebih enak dibaca. Bisa juga meminta bantuan teman untuk membaca tulisan kita sebelum launching ke publik. Yang tidak kalah penting, jangan takut gagal! Karena kita tidak akan pernah tahu gagal atau berhasil bila tidak pernah mencoba. Ingatlah bahwa kegagalan hanyalah milik orang-orang yang tidak pernah memulai sesuatu. Wahai guru…Ingatlah sikap positif dan kata-kata motivasi, “kita pasti bisa bila berpikir kita bisa” atau “mulailah dari hal yang kecil, dari diri sendiri dan saat ini juga” atau “kekuatan ilmu terletak bagaimana kita menyebarkannya dan akan abadi bila tertulis dan ada bukti otentik contohnya seperti mushaf Al Quran”. Wahai guru…Ada sebentuk kalimat indah berikut untuk kita renungi bersama…kesempurnaan itu milik sang Mahasempurna dan kesempurnaan akan terlihat pada prosesnya. Jadi, pede aja kala menulis karena nikmat menulis akan terasa setelah kita menekuninya. Bak candu, kita akan ketagihan. Apalagi ditambah dengan keuntungan tambahan yang akan kita terima. Bisa berupa materi atau pemuas dahaga jiwa. Jadi tunggu apalagi...jadilah bukan guru biasa! |
