Kolom lainnya
- Tidak Ada yang Tidak Bisa, Jika Allah Memutuskan Bisa
- Mengemis Kasih Ilahi di Tanah Suci
- Bukan Ramadhan Biasa
- Perjalanan Umrohku
- Dibutuhkan Tenaga profesional
- Kekuatan Cinta Sang Guru
- Seandainya Rasulullah dalam kelas ...
- Ada Apa dengan Sekolah Unggulan?
- 7 Konten Esensial Pendidikan Terpadu?
- Belajar Efektif Lewat Telinga
| Kritis? dan Kreatif? |
| Written by Reni Sundari, Guru SDIT NF |
| Monday, 08 February 2010 16:43 |
|
Pengamat pendidikan Y.B. Adimassana dan J. Drost (Atmadi,2000:30-58) menggambarkan bahwa rendahnya kualitas pendidikan kita hampir terjadi di semua sisi.
Dari sisi penyelenggara, kritikan terhadap sistem penyelenggaraan yang sentralistik dengan kurikulum yang sangat banyak sehingga menimbulkan kualitas penyelenggaraan pendidikan yang serba minimal.
Dari sisi sarana: keluhan tentang tidak terpenuhinya sarana prasarana pendidikan yang memadai sehingga pelaksanaan pendidikan dijalankan seadanya. Dari sisi proses: mereka menunjukkan bahwa proses pendidikan tidak diisi dengan proses belajar yang bermakna tapi diisi dengan penjejalan pengetahuan yang lebih mengarah pada hafalan teoretis. Dari sisi hasil mereka menggambarkan rendahnya kualitas lulusan yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata Ujian Nasional yang rendah. Kenyataan itu bermuara pada rendahnya kegiatan belajar mengajar yang disebabkan guru terlalu mendominasi. Selama ini guru dijadikan sebagai narasumber yang serba tahu sedangkan siswa polos tidak tahu apa-apa. Mungkin juga terjebak dengan perkataan John Locke yang mengatakan bahwa “Anak yang baru lahir bagaikan kertas putih bersih. Tergantung orang tua dan lingkungannya mau menuliskannya apa dan warna apa”. Kalau kita kaji lebih dalam teori ini, sepertinya anak menjadi hilang kebebasan, anak jadi objek yang bisa kita perlakukan apa saja. Paradigma pemikiran sekarang menuntut guru untuk lebih berperan sebagai pembelajar bukan pengajar. Guru tidak hanya dituntut pintar mengajar siswa, tetapi juga membelajarkan siswa. Maksudnya menumbuhkan dan menyampaikan nilai-nilai seraya mengembangkan potensi kepribadian siswa. ”Kepribadian siswa” kelompok kata yang menarik untuk dikupas lebih dalam lagi. Bagaimana seorang guru mampu mengembangkan kepribadian siswa. Pada sisi lain, nilai yang disampaikan ke anak akan lebih “masuk” jika disampaikan dengan sepenuh hati. Pertanyaannya, apa takaran sepenuh hati? Adakah indikator yang bisa menilainya? ”Yaa dengan hasil”. Hasil? Apa? Anak didik kita. Bagaimana mereka berkepribadian yang setidaknya menurut takaran etis, sopan santun minimal dimiliki. Lebih jauh lagi tuntutan guru mampu menjadi pengelola yang mampu mengoptimalkan semua sumber daya yang ada untuk memberdayakan potensi siswa. Contohnya memfasilitasi guru dengan informasi update akan adanya lomba-lomba, dengan kompetisi siswa dapat lebih maksimal menyerap pelajaran. Berhasil atau tidaknya suatu proses pembelajaran ukurannya bisa dilihat dari siswanya, yaitu seberapa besar siswa mengalami proses belajar dan seberapa banyak ia mengalami perubahan yang diinginkan. Teori belajar Gestalt menekankan pada keholistikan yaitu pengalaman secara menyeluruh tidak bisa disimpulkan sekadar dari bagian-bagiannya, tetapi harus dilihat sebagai bentuk, pola, atau onfigurasi yang utuh dan menyeluruh. Simple-nya begini, anak sulit untuk menyerap ilmu jika hanya diberikan berbagai macam teori tanpa dia bisa melihat atau mempraktekkan sendiri. Contoh, seperti field trip. Kemarin siswa saya mengadakan field trip ke rumah salah seorang tua murid yang memiliki beragam tanaman. Ia adalah salah satu dosen biologi di Universitas Indonesia. Anak kelas dua belajar bagian utama tumbuhan: batang, daun, buah dan lain-lain. Teori yang diajarkan di sekolah dan sepengetahuan mereka warna batang selamanya coklat. Ternyata ada yang kuning, merah dan lain-lain. Field trip ini benar-benar memperkaya pemikiran siswa. Menurut teori ini, pembelajaran akan lebih bermakna lagi jika siswa sudah memiiki pengetahuan sebelumnya tentang apa yang akan diajarkan (melalui buku, VCD, teve, dan koran). Jadi, ketika pembelajaran siswa sudah nyambung, berarti sudah tune in. Dengan belajar seperti itu, siswa tidak hanya mengandalkan materi dari buku atau dari Lembar Kerja Siswa (LKS) atau dari guru saja (bottom up), tetapi juga memanfaatkan pengetahuan siswanya dalam memprediksi, memilah, dan memilih informasi yang diterima sehingga ia mendapatkan informasi yang berharga (top down). Saya jadi teringat pertemuan orang tua murid yang memprotes mengapa tema-tema yang dikeluarkan dalam pembelajaran tidak sesuai dengan tema-tema yang ada di buku atau di LKS. Orang tua seperti ini terpaku pada metode pembelajaran yang memiliki pemahaman bahwa sumber belajar itu hanya buku panduan. Bahkan ada yang ingin membeli berbagai buku yang menjadi pegangan guru. Ya itu sih sah-sah saja. Akan tetapi, jika itu menjadi batasan bagi seorang guru untuk mengajar, menurut saya sungguh tidak kreatifnya guru itu sehingga dia terbatasi oleh buku-buku yang disediakan dan harus menjadi acuan. Pengembangan pembelajaran itu perlu dan harus dikembangkan menjadi suatu hal yang kreatif. Seperti mata pelajaran ilmu sosial, mungkin di buku terbatas pada pengetahuan sejarah. Misalnya, bagaimana Candi Borobudur itu bisa menjadi salah satu keajaiban dunia, hanya sebatas hapalan. Akan tetapi, perlu dikupas lagi mengapa candi itu dibangun? Candi itu buat apa sih? dan lain-lain. Dapatkah membuat candi sebagai bentuk kreativitas sendiri? Bagaimana seorang arkeolog bisa menemukan candi? Tentu saja dengan mengais-ngais tanah. Ternyata kegiatan mengais tanah bisa mendapatkan sesuatu yang berguna dan masih banyak hal lainnya. Konsep belajar seperti ini bisa dijadikan dasar untuk meningkatkan kemampuan membaca dan berpikir kritis, membiasakan menggunakan nalar dalam membaca dan beraktivitas. Ciri yang umum pada pembelajaran berpikir kritis terletak pada bagaimana konflik itu dikelola. Konflik yang disebabkan oleh kebebasan berpikir, keberagaman sudut pandang dan cara berpikir, dan tingginya kualitas dinamika kegiatan pembelajaran (diskusi, studi kasus, dialog, dan praktek) Guru dituntut kesanggupannya untuk tidak menjadi diktator kecil di kelas dan menciptakan tirani kekuasaan. Siswa dituntut mampu memanfaatkan kebebasan berpikir dan berpendapat. Permasalahan pendidikan dapat terselesaikan dengan kesungguhan dan kebersamaan kita. Dalam hal ini tataran guru, kurikulum, dan yayasan. Untuk guru, yuks jangan takut punya ide baru. Tanamkan pembelajaran nalar pada siswa! Jangan tertahan pada rutinitas mengajar, mengoreksi, dan menilai. Jika mentok pada sistem, gunakan out of the box. Semoga artikel ini memberikan pemikiran terhadap perbaikan sistem untuk memfasilitasi ide kreatif guru. Be long life learner my friend.
|
