Kolom lainnya
- Tidak Ada yang Tidak Bisa, Jika Allah Memutuskan Bisa
- Mengemis Kasih Ilahi di Tanah Suci
- Bukan Ramadhan Biasa
- Perjalanan Umrohku
- Dibutuhkan Tenaga profesional
- Kekuatan Cinta Sang Guru
- Seandainya Rasulullah dalam kelas ...
- Ada Apa dengan Sekolah Unggulan?
- 7 Konten Esensial Pendidikan Terpadu?
- Belajar Efektif Lewat Telinga
| Masuk SD Aja Kok Repot... |
| Written by Erna Maryati |
| Monday, 11 January 2010 16:46 |
|
Saat-saat ini untuk beberapa Sekolah Dasar (SD) swasta, adalah momen seleksi penerimaan siswa baru untuk kelas I. Namun, bagi anak-anak Taman Kanak-kanak–B (TK-B), baru menyelesaikan semester pertama.
Untuk mereka yang masuknya melalui Play Group atau TK-A, tentu telah melewati masa-masa belajar sambil bermain yang menyenangkan. Penuh canda tawa selama dua setengah tahun atau satu setengah tahun. Namun, bagi mereka yang masuk TK langsung TK B, berarti baru melewati hampir setengah tahun saja. Namun, Subhanallah...! Kita tidak bisa menutup mata. Betapa sulitnya anak-anak itu mengikuti seleksi masuk SD yang tergolong ketat. Apalagi SD-nya SD favorit. Calon siswa yang berminat untuk masuk SD tersebut membludak, sedangkan kursi yang tersedia terbatas. Jadilah persyaratan masuk pun lebih ketat dengan standar yang tinggi. Anak-anak usia dini itu mestinya lebih banyak mempelajari bagaimana cara hidup bersama, bersosial, dan mematangkan emosi. Jika mereka dewasa kelak, mereka dapat menata emosi mengatasi berbagai permasalahan hidup dengan terencana dan meminimalkan istilah sesal kemudian tak ada gunanya. Menurut beberapa pakar psikologi usia 4-6 tahun, perkembangan sosial dan emosi anak berkembang pesat. Pembelajaran lebih mengedepankan pembangunan karakter daya cipta dan imajinasi. Kenyataannya berkata lain. Salah satu seleksi yang dilakukan oleh beberapa SD swasta adalah seleksi membaca, menulis, dan berhitung (calistung), yang notabene ada di kurikulum SD kelas I dan II. Artinya, kewajiban menguasai membaca, menulis, dan berhitung ada pada pundak anak setelah mereka berada di bangku SD bukan di TK. Materi seleksi ini tentu saja membuat orang tua kalang kabut bahkan tidak sedikit yang keteteran. Alih-alih ingin mendapatkan sekolah yang idaman yang berkualitas malahan mematikan daya cipta dan kreativitas anak dengan memaksakan mereka untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung. Masya Allah...! Karena khawatir tidak diterima di sekolah yang diharapkan, para orang tua telah mengabaikan kebutuhan anak untuk mengembangkan kecerdasan sosial dan emosinya. Memaksa anak untuk mengurangi porsi bermainnya dengan belajar layaknya orang dewasa. Bahkan tidak sedikit dari orang tua meminimalkan kekhawatirannya dengan memasukkan mereka ke tempat-tempat kursus, baik kursus membaca, menulis, maupun berhitung. Memaksa sang anak untuk duduk dengan tenang, menyimak, membaca, dan menulis. Padahal semua itu sangat menyiksa fisik anak bahkan jiwanya. Kita perlu pula mengetahui, untuk anak usia dini, terutama pada rentang usia 0-6 tahun, sarana belajar yang paling tepat buat mereka adalah bermain. Bahkan bermainnya mereka adalah bekerjanya orang dewasa. Bermain, dengan kata lain proses belajar konkret, aktif, dan menyenangkan akan menggali potensi kecerdasan yang ada dalam diri mereka. Saat bermain, multikecerdasan akan tergali dan berkembang. Berinteraksi dengan teman sebaya, bercengkrama, akan terasahlah kecerdasan linguistik dan interpersonal. Menggambar, mencoret-coret dinding, akan terasahlah kecerdasan spatial. Memecahkan berbagai masalah dalam permainan, akan terasahlah kecerdasan intrapersonal dan logis matematis. Mengagumi keindahan penciptaan Allah, akan terasahlah kecerdasan spiritul. Subhanallah...! Banyak hal yang tak terbayarkan diperoleh anak ketika bermain. Lalu, bagaimanakah dengan standar masuk SD yang tinggi itu? Secara tidak langsung proses seleksi itu telah menganiaya jiwa si kecil. Terpenjara jiwanya oleh tuntutan yang lebih tinggi dibandingkan kemampuannya. Tidak menutup kemungkinan, jiwa mereka menjadi kerdil, mudah putus asa, dan mudah menyalahkan orang lain... Astagfirullahaladzim.... Lalu, bagaimana jika para orang tua menunda masuk SD anaknya hingga siap sesuai usianya, misalnya 7-8 tahun? Tentu kebanyakan orang tua akan menjawab TIDAK! dengan berbagai alasan: malu, gengsi, takut anaknya dicap bodoh, ketinggalan zaman, dan sebagainya. Sebenarnya apa sih yang diharapkan seorang orang tua terhadap anaknya: menginginkan anak yang bahagia, cerdas sosial emosinya, atau memiliki anak yang pintar namun tidak bahagia? Laa Illahailallah.... Ujian seleksi masuk SD yang ketat tentu berimplikasi pada pola pendidikan yang akan dilakukan di SD. Jika di TK sebelum masuk SD telah diajarkan penjumlahan bersusun untuk mengantisipasi seleksi masuk SD, padahal mereka belum memahami nilai tempat satuan dan puluhan, pelajaran apa yang sebenarnya mereka terima? Apa yang terjadi dengan jiwa anak kita? Ketika anak-anak usia TK baru mempelajari menyusun kata, bagaimana dia harus membaca pertanyaan-pertanyaan yang panjang dan beranak pinak pada saat seleksi masuk SD? Ketika anak-anak usia TK baru belajar menuliskan nama panggilannya, bagaimana menuliskan jawaban yang panjang dan lengkap ketika seleksi SD? Masya Allah penganiayaan seperti apakah yang dilakukan pada anak-anak tersebut? Ada baiknya SD-SD baik negeri maupun swasta, yang melakukan seleksi semacam itu, mengkaji kembali kurikulum yang telah dibuat oleh Departemen Pendidikan Nasional kita. Pembuatnya tentu telah memikirkan sesuai dengan jenjang usia dan kemampuan yang bisa dicapai pada usia tersebut. Sehingga seleksi SD lebih mengedepankan kematangan siswa dari segi sosial emosi. Kematangan sosial emosi ini Insya Allah akan berdampak jangka panjang. Anak akan menyukai belajar dan menjadi pembelajar yang sukses. Tantangan mereka masih banyak dan juga menjadi tanggung jawab kita sebagai orang dewasa di sekelilingnya. Mereka masih harus menghadapi UASBN (Ujian Nasional Berstandar Nasional) ketika mereka kelas VI, ada UN (Ujian Nasional) ketika mereka kelas IX dan XII. Belum lagi ujian seleksi masuk perguruan tinggi yang mengundang stress luar biasa. Duh...duh...duh.... susahnya jadi anak zaman sekarang.... Masuk SD aja kok repot....
|

Comments
RSS feed for comments to this post.