Sukses Menghafal Qur'an di Tengah Kesibukan

hafalquranMenghafal Qur’an untuk orang-orang yang berada di tengah kesibukan merupakan kesulitan yang luar biasa. Tapi, bukan berarti kita tidak dapat melakukannya. Untuk tujuan akhir yang menggiurkan, surga - Insya Allah, kita bisa lho menggapainya. Bahkan dengan keterbatasan waktu yang kita miliki.

Banyak orang yang bilang menghafal Qur’an di tengah aktivitas pekerjaan yang melelahkan itu tidak mungkin. Padahal itu belum tentu benar. Apakah usaha kita membuahkan hasil? Meski baru mengantongi niat, kita sudah bisa memulainya. Tergantung dengan usaha yang kita lakukan.

Biasanya untuk menghafal Qur’an akan jauh lebih mudah jika factor lingkungan mempengaruhi kita, seperti pesantren misalnya, atau ma’had. Sayangnya kita tidak berada pada lingkungan tersebut. Tak perlu khawatir, banyak jalan menuju Roma, banyak cara menuju bisa.

Pada acara motivasi menghafal Qur’an, Ahad (15/04) di Mesjid Al Muqorrobin, Depok, Ustadz Dwi Miraz mengatakan bahwa 10 menit sebelum atau sesudah sholat disempatkan untuk menghafal Qur’an, dengan terlebih dulu memahami ayat tersebut, lalu mendengarkan bacaannya (bisa dari Handphone) dan yang paling penting bacaan tersebut diulang-ulang. Menurut beliau kita harus menggunakan mushaf  yang sekitarnya sama (Qur’an pojok) selama menghafal, waktu sholat terbagi lima waktu.

Shubuh kita baca satu baris, dzhuhur dan ashar diulangi lagi 1 baris tadi. Maghrib mengulangi hafalan. Isya menjelang tidur membaca lebih banyak dan bersiap untuk hafalan selanjutnya. Hampir sama dengan yang dikatakan oleh Ustadzah Husnul (Hafidzah) beliau membagi kiatnya dalam menghafal.”Gunakan Mushaf yang sama, amati tulisannya, pahami arti kata demi kata, benarkan bacaan kita, anggota tubuh dilibatkan, nikmati saat menghafal, hafalan yang sudah dihafal dibaca lagi tulisannya dan terakhir kita harus punya guru untuk men-cek hafalan kita” ujarnya bersemangat.

Dari dua pendapat tersebut, tercetus sebuah pertanyaan, kapan kita bisa melakukan hal-hal tersebut? Seperti yang dipaparkan oleh bapak Veny Zano (salah satu orang tua murid SDIT Nurul Fikri yang concern terhadap masalah ini) “Berkali-kali kita mengadakan acara motivasi untuk menghafal Qur’an, berkali-kali pula kita memiliki niat untuk segera menghafal Qur’an, namun hasilnya? Tetap saja tidak ada perubahan pada para peserta acara motivasi ini untuk menambah hafalannya. Sulitnya  menyempatkan waktu menghafal di tengah kesibukan menjadi kendala yang crucial dalam menghafal”, ujarnya.

Ustadz Abdul Aziz Abdul Rauf selaku narasumber utama pada acara tersebut menanggapinya dengan memberikan penjelasan sebagai berikut “Kita boleh menggunakan berbagai metode untuk menghafal Qur’an, tapi hati-hati jangan sampai metode menjadi tujuan kita. Metode itu hanya pengantar saja, tujuan akhir sebenarnya adalah menjadikan kita terbiasa untuk membaca Al Qur’an. Dengan menghafal, otomatis kalimat Allah itu akan senantiasa diucapkan dan kita tidak termasuk orang-orang yang mengabaikan Al Qur’an  (Al Furqon; 30). Jangan menunggu sampai pintar membaca tapi membaca baru menghafal, menghafal saja sambil terus menerus diperbaiki bacaannya. Jangan sampai menunggu waktu luang tapi luangkan waktu.

Jika acara motivasi ini 10 kali diadakan belum berhasil, maka kita lanjutkan 50 kali atau bahkan 100 kali. Tapi ada satu cara yang sangat efektif dalam menghafal Qur’an yaitu pemaksaan diri. Rasulullah pernah melakukan hal ini terhadap Hudzaifah. Pada saat itu diadakan acara Mukhoyam Al Qur’an. Rasulullah melakukan Sholat tahajud bersama Hudzaifah.

Pada rakaat pertama setelah membaca Al Fatihah, Rasulullah membaca surat Al Baqoroh. Ketika sampai pada 50 ayat, Hudzaifah berdecak dalam hatinya ”kapan rukunya?”. Rasulullah melajutkan bacaan, hingga pada ayat ke 100. Hudzaifah berkata lagi dalam hatinya ia ingin sekali menghentikan sholatnya. Tapi ia punya harapan “mungkin nanti setelah Al Baqoroh ini selesai” ujarnya. Namun ketika Al Baqoroh selesai, Rasulullah tak kunjung melakukan ruku. Rasulullah melanjutkan dengan membaca Ali Imran. Pada pertengahan surat Ali Imran yang dibacakan Rasulullah, Hudzaifah sudah putus asa dan tidak mempunyai harapan lagi untuk berhenti.

Apalagi ternyata Rasulullah meneruskannya dengan membaca surat An-Nisa. Berarti bacaan keseluruhan 1 rakaat tersebut adalah 5,5 juz. Ditambah ketika Rasulullah melakukan ruku, rukunya beliau hampir sama lamanya dengan waktu berdirinya. Hudzaifah hampir tidak kuat lagi menopang tubuhnya untuk berdiri, namun itu semua terlewati dengan kesabarannya tetap menjadi makmum Rasulullah.

Pada saat itu Rasulullah sedang melakukan pemaksaan diri terhadap Hudzaifah untuk mampu menyelesaikan sholat tahajud bersamanya. Dan juga ketika kita menterjemahkan arti dari (QS. 2:286) Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya. Kita sering terjebak pada kalimat “sesuai dengan kemampuannya”, biasanya kita akan menerapkan standar minimal dalam berusaha dan mencari alasan sebagai pembenaran diri bahwa kita tidak dapat melakukannya. Kesimpulan cerita tersebut adalah bagaimana kita bisa melakukan pemaksaan terhadap diri kita untuk mampu menghafal Qur’an. Benar bahwasanya menghafal Qur’an dibutuhkan niat, keistiqomahan dan doa.

Namun kemampuan untuk bisa memaksa diri kita melakukan hal tersebut patut dilakukan. Dari mulai pemaksaan yang sifatnya mendengar seperti kisah Hudzaifah, pemaksaan yang sifatnya membaca (tilawah) dan terakhir terus-menerus melakukan penyadaran diri akan pentingnya membaca Al Qur’an. Pada akhirnya adalah sebuah pilihan apakah kita akan merasakan kebersamaan dengan Qur’an itu secara taklifi (sebagai beban, walaupun itu tidak salah) atau secara tarbawi (pembangun kenikmatan antara hubungan ia dengan Allah).

Penulis: Reni Sundari, S.Pd.  (Guru SDIT Nurul Fikri)

 

psb tk

Kolom Lainnya

lowongan psikologi